Breaking News:

OJK Proyeksi Ekonomi Kuartal IV/2020 Masih Terkontraksi Minus 2%

Meski masih mengalami kontraksi, proyeksi pertumbuhan ekonomi itu lebih baik dibandingkan dengan kuartal II dan kuartal III.

ANTARA FOTO/RIVAN AWAL LINGGA
Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso (kiri) memberi pemaparan yang disaksikan secara virtual oleh Presiden Joko Widodo (kanan) dalam Pertemuan Tahunan OJK 2020 secara virtual, di Jakarta, Jumat (15/1). OJK sudah menyiapkan berbagai kebijakan stimulus lanjutan untuk tetap menjaga industri jasa keuangan dan meningkatkan kontribusinya dalam mendorong serta memulihkan perekonomian nasional yang termuat dalam Masterplan Sektor Jasa Keuangan Indonesia (MPSJKI) 2021-2025. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksi pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal IV/2020 terkontraksi hingga minus 2 persen. Hal itu diungkapkan Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso.

Menurut dia, proyeksi pertumbuhan ekonomi itu lebih baik dibandingkan dengan kuartal II dan kuartal III, meski masih mengalami kontraksi.

"Kami harapkan kuartal IV (2020) tidak terlalu jelek. Konsensus yaitu minus sekitar 1-2 persen," katanya, dalam Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan Tahun 2020 secara virtual, Jumat (15/1).

Adapun pada kuartal II/2020, pertumbuhan ekonomi RI terkontraksi hingga minus 5,32 persen. Kontraksinya membaik di kuartal III/2020 menjadi sebesar minus 3,49 persen.

Sementara pada 2021, Wimboh memproyeksi ekonomi domestik bakal tumbuh 5 persen. Pertumbuhan tak lepas dari pemulihan ekonomi yang semakin terlihat, di samping vaksin covid-19 yang mulai terdistribusi sejak Rabu (13/1).

"Kami prioritaskan percepatan program Pemulihan Ekonomi Nasional di tahun 2021. Restrukturisasi POJK 11/2020 diperpanjang hingga tahun 2022, sehingga memberi ruang bagi para debitur bisa restrukturisasi kembali," terangnya.

Selain mempercepat program PEN, Wimboh menyatakan, pihaknya sudah menyiapkan emmpat prioritas lain, yakni memperkuat ketahanan dan daya saing sektor jasa keuangan, pengembangan ekosistem sektor jasa keuangan, akselerasi transformasi digital, serta penguatan kapasitas internal OJK.

"Ekosistem sektor jasa keuangan kita bentuk. Market integrity dibentuk. Kita juga akan melakukan inovasi berbagai produk keuangan," tandasnya.

Sebelumnya, ekonom Indef, Bhima Yudhistira menyebut, harapan pertumbuhan ekonomi sesuai proyeksi pemerintah mencapai kisaran 4,5-5 persen sulit menjadi kenyataan, meski peluang pemulihan ekonomi akibat dampak pandemi covid-19 diyakini akan terjadi di 2021.

Bahkan, Bhima memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun ini hanya sebesar 1 persen, akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di sebagian wilayah Jawa-Bali.

"Tapi, bisa jadi terjadi koreksi (target pertumbuhan ekonomi-Red). Bisa jadi kalaupun terjadi pemulihan hanya di kisaran tumbuh 1 persen. Kenapa? Ini kan pemerintah melarang kegiatan," ujarnya.

Menurut dia, PPKM Jawa-Bali yang diumumkan pemerintah itu akan berlanjut sampai akhir Januari 2021, sehingga target pertumbuhan ekonomi pesimistis bisa dicapai.

"Jadi, ini yang membuat proyeksi itu bisa berubah. Tadinya di 2021 banyak yang optimis, termasuk pemerintah menargetkan angka pertumbuhan 5 persen, tapi bisa jadi berbalik arah pertumbuhannya, bisa dikoreksi," tandasnya. (Kompas.com/Fika Nurul Ulya/Tribunnews)

Editor: Vito
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved