Senin, 18 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Evakuasi Sriwijaya Air Diperpanjang 3 Hari, Tim SAR Fokus Cari Korban

Operasi SAR gabungan itu seharusnya berakhir pada Jumat (15/1) lalu. Operasi pencarian kembali diperpanjang tiga hari.

Tayang:
Editor: rustam aji
TRIBUNNEWS/PUSPEN TNI
Pencarian korban pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dengan menggunakan KRI John Lie-358 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Badan Nasional Pencarian Dan Pertolongan (Basarnas) memperpanjang operasi pencarian dan evakuasi pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, selama tiga hari hingga 20 Januari 2021.

"Operasi SAR jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182 kami perpanjang lagi selama tiga hari," kata Kepala Basarnas Marsdya TNI (Purn) Bagus Puruhito di Pelabuhan JICT II, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (18/1).

Basarnas dan sejumlah instansi menetapkan operasi pencarian korban Sriwijaya SJ 182 selama tujuh hari sejak pesawat tersebut jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1). Operasi SAR gabungan itu seharusnya berakhir pada Jumat (15/1) lalu. Karena misi pencarian belum selesai operasi pun diperpanjang dengan selama tiga hari.

Bagus mengatakan, operasi ini diperpanjang selama 3 hari karena ada beberapa alasan. Salah satunya adalah alasan cuaca. Beberapa hari terakhir para penyelam dari tim SAR gabungan kesulitan mencari korban atau serpihan pesawat akibat cuaca yang kurang bersahabat. Kemarin contohnya. Tim SAR hanya bisa mengevakuasi satu kantong jenazah berisi bagian tubuh korban dan beberapa serpihan pesawat. 

Para pengendali operasi, yakni Basarnas serta KNKT juga masih menanti black box jenis Cockpit Voice Recorder (CVR). CVR merupakan bagian dari black box Sriwijaya Air yang sangat penting untuk mengungkap penyebab terjadinya kecelakaan.

Saat ini, bagian CVR yang sudah berhasil dievakuasi yakni underwater locator beacon, casing, dan alat pengambil data suara di pesawat. Sedangkan memori CVR belum ditemukan.

"Yang belum ketemu namanya Crash Survivable Memory Unit, (CSMU), itu adalah bagian yang merekam data percakapan atau suara di kokpit. Itu yang belum kita temukan," ucap Bagus.

"Artinya dalam tiga hari perpanjangan ini kalau nanti kita tentukan ada pengakhiran operasi SAR bukan berarti (pencarian) material kita stop. Tetap berlangsung. Kita juga tetap memantau atau memonitor situasi yang ada. Bila sewaktu-waktu ada yang ditemukan, kita melaksanakan kembali operasi SAR," kata Bagus.

Selain memori CVR yang belum ketemu, korban Sriwijaya SJ 182 juga belum semua berhasil ditemukan. Karena itu, dalam perpanjanga operasi selama 3 hari ini, tim SAR gabungan akan fokus mencari korban. "Fokus kami adalah menemukan human remain.

Sampai saat ini secara resmi dari DVI baru merilis 29 yang diidentifikasi. Tentunya tim SAR gabungan berusaha sekuat mungkin melaksanakan evakuasi korban. Semakin banyak jumlah kantong yang kita temukan akan semakin bermanfaat bagi DVI dalam membantu proses identifikasi," kata Bagus.

Bagus paham, keluarga para korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air bakal menanti sampai kapan pun soal kejelasan jenazah ini. Sejauh ini sudah ada 29 korban Sriwijaya Air SJ 182 yang berhasil teridentifikasi. "Kita memahami situasi keluarga korban yang sangat mengharapkan untuk ditemukan dalam bentuk apa pun," kata Bagus.

Lebih lanjut, Bagus mengatakan dalam pencarian hari ke-10 ini pihaknya telah menerima sebanyak 310 kantong jenazah yang berisi potongan tubuh manusia. Kemudian 60 kantong kecil yang berisi serpihan badan pesawat, dan 55 puing pesawat berukuran besar yang tak dapat dimasukkan ke kantong. Potongan tubuh korban itu langsung dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, untuk dilakukan proses identifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri. Sementara serpihan pesawat diserahkan ke Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dengan rute Jakarta-Pontianak jatuh setelah hilang kontak pada Sabtu (9/1). Tim SAR gabungan hingga saat ini masih melakukan evakuasi terhadap puing-puing pesawat dan bagian tubuh korban di perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang. Salah satu bagian kotak hitam, yakni Flight Data Recorder (FDR) telah ditemukan. Namun tim masih harus mencari bagian CVR dari kotak hitam pesawat tersebut.(tribun network/git/dod)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved