Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Focus

Belajar Ikhlas dari Mbah Rum

Namun tanpa alasan Mbah Rum akhirnya memilih kembali ke Purworejo setelah lama tinggal di Surabaya

Penulis: galih permadi | Editor: muslimah
Tribun Jateng
Galih Permadi 

Belajar Ikhlas dari Mbah Rum

Oleh Wartawan Tribun Jateng

Galih Permadi

“Yah, celana panjang mas dipotong 17 cm ya,” demikian titah ibu negara Jumat (22/1/2021) pagi kemarin. Saya pun menuju kawasan Kemuning tak jauh dari Pasar Baledono Purworejo.

Di kawasan Kemuning berjejer belasan penjahit, baik itu penjahit pakaian atau sol sepatu. Waktu menunjukkan sekitar pukul 09.30. Pagi itu, masih terhitung jari penjahit yang membuka kiosnya.

Kios penjahit langganan istri waktu itu masih tutup. Saya lantas berhenti di sebuah kios di sebelahnya dan terlihat seorang penjahit tua berkacamata sedang beberes menata kiosnya. Dari sebuah obrolan, saya lalu tahu nama panggilan beliau adalah Mbah Rum.

“Daleme pundi tho mas?,” Mbah Rum mencoba membuka obrolan sembari menjahit bawahan celana panjang anak pertama saya. “Kulo Purwodadi mbah,” jawab saya.

“Penak nggih duwe kerja, duwe jabatan. Nek kulo nggih ngeten mawon,” mendadak Mbah Rum berkata demikian. Mbah Rum tampaknya ingin ngudarasa apa yang sedang dia rasakan. “Lha pripun tho Mbah?,” saya menyahut.

Dari cerita Mbah Rum, ada secuil penyesalan hingga akhirnya belasan tahun menjadi penjahit. Dia merasa minder dengan kondisi dirinya dibanding dengan kakak dan adiknya. “Mas kalih adik kulo nduwe jabatan. Dadi TU PTPN nang Surabaya, adik kulo guru. Kulo ngeten mawon,” keluh Mbah Rum.

Namun tanpa alasan Mbah Rum akhirnya memilih kembali ke Purworejo setelah lama tinggal di Surabaya. Mbah Rum rela berkorban pulang demi merawat ibunya yang sakit. Apalagi waktu itu dirinya hanya hidup dengan putri semata wayangnya lantaran suami meninggal dunia.

“Mungkin wis dalan e kulo. Kon bali ngerawat ibu. Nggih kulo akhire wis ikhlas ngerawat ibu ta anggep ibadah,” kata Mbah Rum yang akhirnya berdamai dengan keadaan.

Ya, kita tak tahu apa yang sudah diperjuangkan dan dikorbankan seorang ibu macam Mbah Rum. Tentu tak mudah bagi Mbah Rum hidup tanpa suami dan harus membesarkan anak semata wayangnya.

Tapi, baru-baru ini, miris mendengar seorang anak ingin penjarakan dan menggugat orang tuanya. Agesti Ayu asal Demak tega ingin penjarakan Sumiyatun. Agesti kesal ibunya diduga selingkuh.

Lalu ada Deden di Bandung yang menggugat ayah kandungnya, Koswara Rp 3 miliar gara-gara sengketa tanah warisan. "Saya uang dari mana. Menyekolahkan mereka juga sudah lebih dari itu. Nyarinya juga hujan panas berangkat untuk cari uang demi keperluan mereka," ucap Koswara.

Di Semarang, Alfian Prabowo menggugat Dewi Firdauz ibu kandung gara-gara ia menginginkan mobil Fortuner setelah orang tuanya bercerai. Jika tidak segera diberikan, sang ibu dianggap menyewa sebesar Rp 200 juta atau rumah disita. "Kalau rumah ini disita, lalu saya mau tinggal di mana lagi. Gaji pegawai itu berapa, kok saya disia-siakan anak saya," ujarnya.

Bahkan dalam menghadapi kasus ini Dewi tidak menggunakan pengacara. "Saya tidak memakai pengacara karena Allah adalah pembela saya. Allah akan menemani ibu-ibu yang membesarkan anaknya dengan ikhlas," tuturnya. Kasus ini mencuat lantaran Alfian kecewa dengan perceraian kedua orang tuanya.

Berkaca tiga kasus di atas, seburuk-buruknya orang tua sikap kita sebagai anak harus bisa ikhlas dan berdamai dengan keadaan. Seperti yang sudah diajarkan oleh Mbah Rum.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved