Breaking News:

Berita Batang

Diangkat Menjadi Staf Bupati, Abdul Rosid: Saya Senang Tidak Ada Diskriminasi Kaum Tunanetra

Bupati Batang Wihaji secara spontan mengangkat beberapa orang warganya yang nenyandang disabilitas.

Tribun Jateng/Dina Indriani
Bupati Batang Wihaji saat memberikan bantuan kepada penyandang disabilitas tunanetra di Aula Dinas Sosial Kabupaten Batang, Selasa (26/1/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, BATANG - Bupati Batang Wihaji secara spontan mengangkat beberapa orang warganya yang nenyandang disabilitas tunanetra menjadi staf di kantornya.

Momen mengharukan ini terjadi, saat memberikan bantuan kepada penyandang disabilitas tunanetra di Aula Dinas Sosial Kabupaten Batang, Selasa (26/1/2021).

Bupati Batang Wihaji mengatakan, penyandang disabilitas tunanetra yang diangkat menjadi staf di kantor  mempunyai hak yang sama dengan yang normal dan Pemerintah Kabupaten Batang memberikan ruang untuk bekerja sebagai non Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Namanya Abdul Rosid dari Desa Sidorejo, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, kebetulan dia juga sudah pernah sekolah, jadi insyallah ini bagian dari keadilan meski tidak semua diangkat tetapi biar ada perhatian dari Pemerintah,” tutur Wihaji.

Dijelaskannya, honor yang akan diberikan kepada penyandang disabilitas yang diangkat sebesar Rp 1,9 Juta dipotong pajak untuk gaji satu orang.

"Pelan-pelan bisa dididik, ke depannya  berdasarkan kemampuan akan disesuaikan untuk penempatannya," ujarnya.

Penyandang Disabilitas Tunanetra Abdul Rosid yang diangkat menjadi staf Bupati Batang mengaku sangat senang karena hak tersebut merupakan impiannya dalam memperjuangkan kaum tunanetra dan tidaj ada diskriminasi antar sesama.

"Alhamdulillah saya sangat senang sekali tidak ada diskriminasi untuk penyandang disabilitas, dan itu adalah mimpi yang ada di dalam Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia Kabupaten Batang," tuturnya.

Pria yang akrab disapa Rosid itu sebelumnya pernah menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Kesejahteraan Sosial Makasar.

Namun karena suatu musibah dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya sehingga mengharuskannya untuk kembali ke Batang dan bekerja serabutan.

"Saya pernah sekolah tinggi ilmu kesejahteraan sosial Makasar, karena ada suatu musibah di keluarga saya akhirnya saat ini menetap di Kabupaten Batang," pungkasnya. (*)

Penulis: dina indriani
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved