Breaking News:

Nilai Tukar Rupiah Tertekan Program Biden 'Buy American'

Program Buy American atau beli produk dalam negeri yang dicetuskan Presiden AS Joe Biden cenderung memberi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah.

TRIBUNNEWS/JEPRIMA
ilustrasi - uang rupiah. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Program Buy American atau beli produk dalam negeri yang dicetuskan Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden cenderung memberi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah.

Namun, secara teknikal rupiah masih bisa bergerak stabil dengan kecenderungan menguat tipis.

Di pasar spot, Selasa (26/1), rupiah melemah 0,30 persen ke level Rp 14.065/dollar AS. Sementara, kurs tengah BI mencatat rupiah melemah 0,02 persen ke level Rp 14.086/dollar AS.

Analis HFX Berjangka, Ady Pangestu mengatakan, Biden yang mendorong warganya untuk membeli produk dalam negerinya bepotensi menimbulkan kekhawatiran bagi mitra dagang AS.

Ia melihat kebijakan politik luar negeri Biden tidak jauh berbeda dengan Donald Trump. Dampaknya, bisa menimbulkan kekhawatiran akan ketegangan perang dagang lagi.

Sementara pelaku pasar saat ini masih menanti pengesahan stimulus 1,9 triliun dollarAS dari pemerintah AS untuk penanganan pandemi.

"Rupiah bisa menguat jika stimulus disahkan, tetapi saat ini informasinya masih belum jelas, sehingga volatilitas tidak bisa dihindarkan," katanya, Selasa (26/1).

Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual mengatakan lonjakan kasus covid-19 membuat pasar keuangan cenderung melemah, dan memicu aksi profit taking.

Pada Rabu (27/1), akan ada FOMC meetings. Ady memproyeksikan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga rendah. Alhasil, indeks dolar AS berpotensi bergerak stabil, begitupun dengan rupiah.

Ady memproyeksikan rentang rupiah pada Rabu (27/1) ada di Rp 14.100-Rp 14.200 per dollar AS, sementara David memproyeksikan rupiah menguat tipis ke Rp 14.000-Rp 14.100 per dollar AS setelah pelemahan yang terjadi beberapa hari lalu.

Direktur TRFX Garuda Berjangka, Ibrahim mengatakan, pelemahan rupiah kemarin terdorong sentimen perpanjangan masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta, yang tertuang dalam Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 51/2021 yang diteken pada 22 Januari 2021.

Aturan itu sekaligus mengikuti periode pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang diterapkan pemerintah pusat. PPKM telah diperpanjang hingga 8 Februari 2021.

"Dengan diperpanjangnya PPKM dan PSBB tentunya dapat mengurangi konsumsi masyarakat, sehingga akan menghambat laju pemulihan ekonomi Indonesia yang berdampak negatif ke pasar, dan ini bisa terlihat dari arus modal asing yang keluar pasar dalam negeri begitu besar, sehingga wajar kalau mata uang rupiah dalam penutupan sore ini (kemarin-Red) melemah," terangnya dalam siaran pers. (Kontan/Danielisa Putriadita/Kompas.com/Kiki Safitri)

Editor: Vito
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved