Kamis, 11 Juni 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kudus

Getuk Saus Alpukat Desa Kajar Kudus, Dilirik hingga Slovenia‎

Desa Kajar menjadi lokasi yang patut disinggahi wisatawan saat berkunjung ke Kabupaten Kudus.

Tayang:
Penulis: raka f pujangga | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Raka F Pujangga
Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus sebagai lokasi yang patut disinggahi wisatawan saat berkunjung ke Kabupaten Kudus. Desa itu menyuguhkan beragam kuliner menarik, di antaranya getuk saus alpukat. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS - Desa Kajar menjadi lokasi yang patut disinggahi wisatawan saat berkunjung ke Kabupaten Kudus.

Desa yang berada di Kecamatan Dawe, K

Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus sebagai lokasi yang patut disinggahi wisatawan saat berkunjung ke Kabupaten Kudus. Desa itu menyuguhkan beragam kuliner menarik, di antaranya getuk saus alpukat.
Desa Kajar, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus sebagai lokasi yang patut disinggahi wisatawan saat berkunjung ke Kabupaten Kudus. Desa itu menyuguhkan beragam kuliner menarik, di antaranya getuk saus alpukat. (Tribun Jateng/Raka F Pujangga)

abupaten Kudus itu menyuguhkan beragam kuliner menarik. nSatu di antaranya getuk saus alpukat yang dikembangkan Kamisan, Pemilik Pondok Getuk Pak San.

Kamisan sejak dua bulan lalu mengembangkan getuk saus alpukat‎ yang dilirik sampai ke Slovenia.

Rencananya, getuk saus alpukat akan dibawa ke Slovenia dalam Festival Kuliner yang akan digelar sekitar bulan September 2021.

Kamisan‎ berinovasi dengan getuk tersebut karena potensi alpukat mentega di sana cukup banyak.

"Saya melihat banyak petani alpukat di sini, ‎makanya saya coba mengembangkan getuk dengan saus alpukat," ujar warga RT 3, RW 3, Desa Kajar tersebut.

Menurutnya, setelah berjalan selama dua bulan ternyata responsnya cukup baik. Banyak pengunjung di sana yang memesan getuk tersebut.

‎"Pokoknya banyak yang pesan saya nggak bisa hitung," ujar dia.

Harga getuk terseut juga terbilang murah hanya Rp 5.000 per porsi yang berisi dua potong.

"Jadi satunya hanya Rp 2.500. Seporsi dapat dua potong," jelas dia.

Dia menyampaikan, spesialnya menu tersebut berada pada sausnya karena diolah agar tidak memiliki kadar air tinggi.

"Rahasianya ini ada di sausnya, kami olah agar sausnya tidak banyak kandungan airnya," ucapnya.

Selain itu, pengunjung juga bisa bebas memilih toping yang dibubuhkan di atas getuk saus alpukat tersebut.

"Ada macam-macam toping, cokelat, stroberi atau capucino kami punya sesuai selera," jelas dia.

Dia menceritakan, bahan untuk membuat getuk tersebut semuanya berasal dari hasil bumi petani Desa Kajar.

Sehingga, dia tidak mendatangkan singkong dan alpukat dari luar daerah karena pasokannya mencukupi.

"Bahan baku semua dari sini, kami tidak ambil dari daerah lainnya," jelas dia.

Dalam sehari, dia bisa menghabiskan sedikitnya satu kwintal singkong jenis ketela ketan.

Ketela ketan itu, kata dia, memiliki tekstur yang lebih empuk sehingga memberikan sensasi berbeda saat diolah menjadi getuk.

"Membuat getuk pakai ketela ketan ini rasanya lebih empuk," jelas dia.

‎Dia terus berinovasi dengan beragam varian rasa untuk mengembangkan wisata kuliner di Desa Kajar.

Sebelumnya, Kamisan bercerita pernah mengembangkan getuk saus durian. Namun sayangnya tidak terlalu cocok.

Perpaduan antara ketela dan durian, bisa membuat orang mengonsumsinya mengeluhkan pusing.

"Dulu kami buat getuk durian, tapi ternyata ga cocok. Tidak semua bisa menikmatinya. Berbeda dengan saus alpukat," ujar dia.

‎Sementara itu, Kepala Desa Kajar, Bambang TS mengapresiasi pengembangan inovasi wisata kuliner di Desa Kajar‎.

Pasalnya inovasi kuliner tersebut dapat menarik jumlah wisatawan untuk datang berkunjung ke sana.

"Saya mengucapkan terima kasih dengan inovasi yang terus dikembangkan untuk menarik wisatawan," jelas dia.

Dia juga tetap menekankan protokol kesehatan bagi setiap pengunjung yang datang menikmati kuliner di sana.

Mulai dari pengecekan suhu, kewajiban mengenakan masker dan menjaga jarak satu sama lain.

"Protokol kesehatan selalu kami tekankan kepada semua pedagang getuk," jelas dia.

Saat ini, kata dia, terdapat 36 pedagang getuk di Desa ‎Kajar yang terus berinovasi mengenalkan wisata kuliner di sana.

Meskipun, pedagang getuk Desa Kajar mulai ramai berkembang di tengah pandemi pada April 2020 lalu.

"Mulai ramai jual getuk ini justru waktu pandemi, di bulan April 2020," jelas dia.

Bermula dari getuk goreng yang isinya gula dan cokelat. Kemudian kini bisa berkembang dengan beragam varian rasa.

"‎Alhamdulillah ada pendampingan dinas pariwisata, sehingga dari penataan sajian dan mutunya juga baik," ujarnya.

‎Pengunjung Pondok Getuk Pak San, Arif Rahman (31) menjelaskan, baru pertama kali menikmati getuk saus alpukat.

Dia penasaran karena menawarkan inovasi yang berbeda dari getuk yang dijual pada umumnya.

"Pertama kali saya coba makan ternyata enak juga. Saus alpukatnya terasa seperti minum jus," ujarnya.

‎Sementara itu, Pendamping Desa Wisata Kajar, Donna Ekawati menceritakan, inovasi getuk saus alpukat rencananya akan dibawa ke Festival Kuliner di Slovenia.

Namun pihaknya mempertimbangkan cara membawa bahan bakunya ke sana.

"Kami harus bawa masih mentah, karena kalau sudah matang nanti nggak fresh lagi," jelas dia.

‎Solusi lainnya bisa menggunakan bahan baku yang ada di sana. Namun harga yang lebih mahal dan jenis ketela berbeda dikhawatirkan mempengaruhi rasa.

"Kalau beli di sana harganya sudah euro, dan mungkin juga jenisnya berbeda," jelas dia. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved