Dinamika Hukum
Penghina Natalius Pigai Sulit Berkelit
AKTIVIS hak asasi manusia asal Papua, Natalius Pigai mendapat serangan rasis dari Ambroncius Nababan
Oleh: Cecep Burdansyah SH MH
Pengamat hukum
AKTIVIS hak asasi manusia asal Papua, Natalius Pigai mendapat serangan rasis dari Ambroncius Nababan. Foto Pigai disandingkan dengan binatang dan ditayangkan di media sosial.
Kontan tayangan ini jadi heboh dan dianggap sebagai serangan rasis. Tentu semua kaget dengan Tindakan rasis tersebut. Karena seperti sudah disepakati dalam konstitusi, bangsa Indonesia yang bhineka tunggal ika ini, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak membeda-bedakan asal usul, ras, etnis, golongan dan agama.
Dalam berbangsa dan bernegara, kita mengakui semua masyarakat di nusantara yang berbeda-beda ini dalam pangkuan ibu pertiwi. Sunda, Batak, Jawa, Papua, Bugis, Maluku, Aceh dan yang lainnya adalah dalam satu pelukan, bangsa Indonesia.
Dalam penghidupan, kita tidak berdasarkan pada ras, agama, golongan, dan etnis, tapi berdasarkan pada kemmapuan, keahlian, integritas. Semua bangsa Indonesia boleh mencari penghidupan dalam segala bidang tanpa ada diskriminasi.
Karena itu, tindakan rasisme Ambroncius Nababan sangat melukai bukan saja Natalius Pigai pribadi dan masyarakat Papua, tapi juga bangsa Indonesia yang beraneka ragam ras dan etnis ini. Perbedaan ras, etnis dan agama harus sudah selesai.
Alasan yang Menyulitkan
Ambroncius Nababan yang mengaku sebagai Ketua Relawan Jokowi-Maruf Amin (Jomin), beralasan bahwa tindakannya itu karena kesal terhadap Natalius Pigai yang getol mengkritik kebijakan Jokowi.
Tentu saja alasan tersebut tak bisa diterima akal sehat. Kritik Pigai dibalas serangan rasis malah menunjukkan pendek akal dan emosional seorang pendukung pemerintah. Saya yakin, Jokowi sebagai presiden dan Maruf Amien sebagai wakil presiden, tak akan suka dengan tindakan rasis oleh pendukungnya. Alasannya itu malah akan menyulitkan pembelaannya di pengadilan.
Alasan kedua yang juga akan cukup menyulitkan Ambroncius adalah ia menyebutkan tindakan rasis hanya ditujukan pada Pigai karena kekesalannya suka mengkritik pemerintah.
Logika tersebut sulit diterima. Karena serangan rasis yang ditujukan pada seseorang, itu sekaligus menghina ras tertentu. Jadi sangat wajar kalau ada reaksi dari masyarakat Papua, seperti dikatakan Kapolda Papua Paulus Waterpauw. Namun bersyukur Polda Papua bisa meredam kemarahan terhadap tindakan rasis pada Pigai.
Kita hidup dalam suasana demokrasi. Pilihan untuk menjadi pendukung pemerintah ataupun jadi opisisi dijamin oleh konstitusi. Jadi kalau Natalius Pigai mengkritik kebijakan pemerintah, satu keniscayaan di alam demokrasi. Begitu pula kalau Ambroncius mau jadi pembela pemerintah, juga dilindungi undang-undang.
Namun yang harus diingat dan diwaspadai, jangan sampai kritik terjerumus jadi menghina. Seharusnya Ambroncius membalas kritik Pigai dengan cara menjawab seputar kebijakan pemerintah yang dibelanya, bukan dengan serangan rasis. Itu baru menjadi debat yang bermutu karena fokus pada kebijakan.
Justru dengan serangan rasis dari pendukung Jokowi ini malah merusak usaha Jokowi dalam membangun dan menata kehidupan masyarakat Papua. Apa yang dilakukan Jokowi, seperti membangun infrastruktur, ekonomi, dan membuat suasana damai jadi rusak oleh tindakan tak terpuji pendukungnya.
Untungnya Polri gerak cepat menangani kasus seranga rasis ini. Polri sudah memperhitungkan, jika lambat menangani kasus ini, dampaknya bisa berbahaya, yaitu meluas. Dari segi alat bukti, tindakan Ambroncius sudah memenuhi syarat tindakan pidana.
Munculnya serangan rasis dari Ambroncius, relawan Jokowi-Amien, juga menunjukkan di kalangan elite politik belum siap berdemokrasi. Ini akan berbahaya sebab bisa menetes ke akar rumput, menjadi contoh buruk. Mudah-mudahan kasus ini tidak terulang. Kita semua anak bangsa, punya hak yang sama, tanpa ada diskriminasi. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/natalius-pigai-sebut-hukuman-kebiri-merupakan-penyiksaan-fisik.jpg)