Breaking News:

Setnov Jadi Petani Panen Padi di Sukamiskin, Penampilannya Berubah 180 Derajat

Dalam beberapa foto yang beredar di kalangan awak media, pria yang akrab disapa Setnov itu tampak mengenakan kemeja safari putih dengan bawahan hitam

Editor: rustam aji
Istimewa/TribunJabar.id
Penampakan Setya Novanto dan Dada Rosada Saat Panen Padi di Lapas Sukamiskin (istimewa) 

TRIBUNJATENG.COM, BANDUNG - Ada pemandangan menarik terlihat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/1) lali. Sejumlah penghuni Lapas tampak menjalani rutinitas baru dengan menjadi petani. Satu di antaranya adalah Setya Novanto. Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang dulu selalu terlihat perlente dengan setelan jas itu, kini terlihat seperti petani benaran.

Dalam beberapa foto yang beredar di kalangan awak media, pria yang akrab disapa Setnov itu tampak mengenakan kemeja safari putih dengan bawahan hitam bersetrip putih, seperti celana training atau jogger pants. Tak lupa caping atau topi petani yang menutupi kepalanya. Sementara di tangan kanannya Setnov terlihat memegang sabit, alat pemotong padi, dan tangan kirinya ia memegang padi yang sudah dipotong.

Rupanya hari itu Setnov dan para warga binaan lainnya di Lapas Sukamiskin tengah mengikuti program pembinaan pemasyarakatan, yakni pos kerja pertanian. Pos kerja ini merupakan salah satu program unggulan Lapas yang bertujuan mempersiapkan warga binaan agar dapat lebih mandiri setelah menjalani masa pidana.

Humas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Rika Apriyanti mengatakan, pembinaan adalah program yang wajib diikuti oleh setiap narapidana di Lapas Sukamiskin. Pembinaan tersebut berkaitan dengan pembinaan kepribadian, yang meliputi kemandirian, spiritual, dan intelektual.

Dari sejumlah program pembinaan tersebut, Rika menyebut Setnov memilik program kemandirian lewat bercocok tanam atau menjadi petani. Setiap narapidana memang diberi hak untuk memilih salah satu program pembinaan tersebut. "Dan dalam hal ini, pembinaan yang dipilih oleh Setnov adalah pembinaan kemandirian yaitu bercocok tanam, atau pertanian," ujar Rika.

Setnov adalah narapidana kasus korupsi e-KTP yang divonis 15 tahun penjara dan denda Rp500 juta subsider tiga bulan kurungan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta pada April 2018. Keberadaannya di Lapas Sukamiskin sempat menjadi sorotan usai Ombudsman menemukan sel yang dihuni Setnov lebih luas dari sel umumnya. Sel Setnov juga terdiri dari dua lantai dan tidak sesuai standar sebagaimana sel lain, masih ada kitchen set dan tempat tidur milik pribadi, meski belakangan diketahui sel itu telah dibongkar.

Selain Setnov, beberapa penghuni lapas yang merupakan terpidana kasus korupsi juga ikut ambil bagian dalam program tersebut. Di antararanya mantan Kakorlantas Polri Joko Susilo, mantan Menteri ESDM Jero Wacik, dan mantan Wali Kota Bandung, Dada Rosada.

Ditantang Kalapas

Kepala Lapas Sukamiskin Asep Sutandar mengatakan, sejak bertugas di Lapas pada sebulan yang lalu, dia menantang para mantan pejabat tinggi itu untuk ikut berkontribusi dalam program pembinaan lapas.

"Beliau ini punya sosial tinggi, tapi apa mungkin beliau mau turun tangan? Kalau di lapas umumnya kan narapidana umum yang menggarap (pertanian).  Saya tantang beliau mau kontribusi terhadap program binaan ini. Bukan kontribusi materi, tapi tenaga dan pikiran. Ternyata beliau-beliau yang notabene status sosialnya tinggi ini mau terjun ke sawah," kata Asep saat dihubungi, Jumat (29/1).  

Selain bagian dari program lapas, lanjut Asep, aktivitas bertani yang dijalani para warga binaan itu bertujuan untuk mengisi waktu dan mengurangi stress. Terlebih, di masa pandemi Covid-19 saat ini, mereka diharapkan memiliki kegiatan yang positif. "Sehingga mereka ada aktivitas dan mengurangi stress selama menjalani hukuman. Ada kegiatan, bukan sekedar mengisi waktu, tapi juga bermanfaat," katanya.

Di sisi lain, menurut Asep, program pembinaan itu memang diwajibkan, tak peduli mantan anggota DPR, menteri hingga bekas kepala daerah. "Masyarakat mengatakan enggak mungkin orang seperti itu (napi korupsi) mau mengerjakan pekerjaan kalangan kecil. Tapi nyatanya mereka mau sebagai warga binaan. Mengeyampingkan yang disandangnya dulu sebagai apa," ucap Asep.

Keterampilan Autodidak

Menurut Asep, Novanto maupun napi korupsi yang mengikuti program ini baru terjun sejak dirinya menjabat. "Terjunnya sejak saya masuk ke sini. Memang sebelumnya hanya berikan dorongan saja buat warga binaan lainnya," ujar Asep.

Asep mengaku pernah mengobrol dengan Dada Rosada yang masa kecilnya pernah bermain di sawah. "Beliau ini sudah berumur, mereka ingin merasakan juga kalangan tani seperti apa. Seperti Pak Dada yang mengatakan pada saya bahwa dirinya dulu juga bermain di sawah. Tapi setelah jadi pejabat sudah enggak sentuh lagi. Di sini, Beliau kontribusi lagi seperti masa kecilnya," ujar Asep.

Pos kerja pertanian ini dibuat di lahan kosong tak terpakai di sekitar kompleks Lapas Sukamiskin. Asep mengatakan, lahan kosong tersebut digunakan tak hanya untuk tanam padi, tapi juga tanaman lainnya seperti tanaman obat, jagung, umbi, cabai. Bahkan ada juga peternakan merpati dan budidaya ikan. "Paling tidak, ruang yang kosong bisa cocok tanam, seperti padi, sayuran dan tanaman apotek hidup, mereka berkreasi saja," ucap Asep.

Asep menambahkan, konsep penjara saat ini tidak hanya sekedar hukuman, namun juga pemasyarakatan yang menjalankan fungsi pembinaan. "Meski lahan pertanian di Lapas Sukamiskin terbatas, tapi tidak mengurangi fungsi pemasyarakatan di Lapas Sukamiskin," katanya.

Tidak ada pelatihan khusus bagi para napi koruptor ini untuk bertani hingga berkebun. Menurut Asep, mereka melakukannya secara autodidak, belajar dari buku-buku atau referensi lainnya. "Tidak ada pelatihan khusus, kan banyak referensi bagaimana bercocok tanam yang bagus. Ada bukunya," ucap dia.

Pada Kamis (28/1), Lapas Sukamiskin telah melakukan panen raya. Hasilnya akan digunakan untuk konsumsi warga binaan di dalamnya. "(Hasilnya) berkwintal-kwintal, cuma banyak yang dimakan wereng. Sebetulnya kita tak targetkan berapa, tapi bisa dimanfaatkan warga di dalam sudah hal positif lah," kata dia. Ke depannya, pihak Lapas berencana membuat program binaan lainnya seperti membuat paduan suara, pertanian hidroponik, hingga mengolah madu. (tribun network/meg/ham/dod/kps)

Sumber: Tribunnews.com
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved