Berita Video
Video Pedagang Buah Musiman di Gunungpati Berburu Rezeki
Bagi warga Gunungpati,Kota Semarang musim panen buah saatnya untuk mengunduh rezeki
Penulis: iwan Arifianto | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut ini video pedagang buah musiman di Gunungpati berburu rezeki.
Bagi warga Gunungpati,Kota Semarang musim panen buah saatnya untuk mengunduh rezeki.
Mereka mencoba menjajakan hasil kebun mereka ke para pengguna jalan.
Tak heran, jika musim panen buah seperti sekarang ini, belasan pedagang buah mudah dijumpai di sepanjang jalan Manyaran-Gunungpati,Kota Semarang.
Para pedagang musiman tersebut menjual beragam buah hasil kebun mereka seperti durian,rambutan,kedondong, pisang dan lainnya.
Satu di antarnya yakni Mbah Jumiah (61).
Bermodal buah hasil kebun dan tiga lembar kain karung, dia menggelar dagangannya tepat di seberang kantor Kelurahan Sadeng, Gunungpati.
"Jualan di pinggir jalan seperti ini musiman.
Biasanya antara bulan Januari hingga Februari," terangnya kepada Tribunjateng.com, Jumat (29/1/2021).
Dia menyebut, sudah melakoni pekerjaan sebagai pedagang buah musiman sekira 30 tahun.
Buah yang dijual merupakan hasil panen di kebunnya.
Tak heran barang yang dijual merupakan buah segar yang baru dipetik dari pohon.
"Panen di kebun melimpah.
Dimakan sendiri berlebih.
Maka saya jual di sini.
Sudah saya lakoni sejak habis menikah dulu," terang nenek empat cucu ini.
Dia mengatakan, saking lamanya berjualan tiap musim panen buah, banyak pencinta buah yang jadi pelanggannya.
Terutama bagi para pencinta durian.
Menurutnya, para pelanggan yang maniak durian sudah hafal rasa durian hasil pohon miliknya.
Tak heran, dia dicari-cari pelanggan setiap tahunnya.
"Setiap musim durian seperti ini pelanggan tetap selalu cari ke sini.
Saya jamin mak nyus.
Kalau mengecewakan boleh dikembalikan," paparnya.
Tak hanya durian, buah lain juga disediakan seperti rambutan dan kedondong.
Mbah Jumiah selalu menawarkan para pembeli untuk mencicipi buah dagangannya.
"Semua buah yang saya jual boleh dicicipi dulu.
Kalau enak silahkan beli.
Saya lebih senang kalo pembeli membeli buah karena buahnya enak," terang warga Sadeng, Gunungpati ini.
Dia menjual buah dengan harga terjangkau.
Satu ikat besar rambutan harga Rp 12.500.
Durian lokal harga variatif mulai harga Rp 75 ribu - Rp 150 ribu.
Harga itu, sambung dia, masih bisa ditawar oleh pembeli.
"Keuntungan perhari bisa beragam paling sepi Rp 100 ribu.
Pendapatan sangat dipengaruhi oleh jualan hasil durian.
Jika banyak menjual buah durian keuntungan makin besar," ujarnya.
Dia menyebut, biasa mangkal di seberang Kantor Kelurahan Sadeng.
Biasanya dia jualan hari Jumat hingga Minggu.
Namun hari biasa juga jualan kalau buah di kebun harus lekas dipanen.
"Ya jualan gini tidak ada modal.
Kendala cuma hujan saja," paparnya.
Menurutnya, ada belasan bahkan mungkin puluhan para warga yang melakoni sebagai penjual buah musiman seperti dirinya.
Akan tetapi sekarang sudah agak berubah tak seperti dulu lagi.
Seperti buah durian yang dijual di sepanjang jalan tersebut tak selalu hasil kebun warga Gunungpati.
"Ada yang beli dari luar Gunungpati terus menjualnya di sini.
Mungkin karena hasil kebun mereka kurang atau apa saya tidak tahu," ungkapnya.
Di pandemi Covid-19,kata dia, ternyata membuat dagangan buahnya makin ramai.
Rambutan dan durian laris manis jadi primadona pembeli.
"Tidak tahu kenapa banyak yang beli buah sekarang," terangnya.
Kendati demikian, dia mengaku, panen durian tahun ini tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
Pasalnya, cuaca buruk berupa hujan angin yang melanda wilayah Gunungpati menyebabkan bunga durian rontok sehingga mempengaruhi hasil panen.
"Tetap disyukuri seberapun hasil alam yang diberikan.
Banyak ya kenyang.
Sedikit ya tahan,"kata dia.
Seorang pembeli, Wasis mengatakan,sudah belasan tahun menjadi pelanggan buah durian di wilayah Sadeng.
Lantaran kualitas buah durian lokal yang dijual warga setempat lebih terjamin rasanya.
"Mereka jualan hasil kebun sendiri.
Tak heran rasanya terjamin.
Harga juga bisa ditawar.
Kalau sudah kenal malah dikasih bonus.
Mereka kadang menganggap pembeli seperti saudara.
Beli satu dikasih dua," jelasnya warga Manyaran ini. (Iwn)
TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE: