PPKM Tuntut Pelaku Usaha Optimalkan Digitalisasi
Satu hal yang juga penting untuk dilakukan para pelaku usaha di masa PPKM ini ialah mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi serta digital
Penulis: Ruth Novita Lusiani | Editor: Vito
Laporan Wartawan Tribun Jateng, Ruth Novita Lusiani
SEMARANG,TRIBUN - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dinilai memberikan dampak terhadap sektor ekonomi, termasuk Jateng. Hal itu diungkapkan akademisi dan pemerhati isu-isu ekonomi, Andi Tri Haryono. Menurut dia, PPKM berdampak kepada para pelaku usaha.
“PPKM akan berpengaruh pada menurunnya tingkat konsumsi masyarakat. Dalam situasi ini, para pelaku usaha di berbagai sektor harus dapat adaptif dan responsif terhadap tantangan saat ini,” katanya, kepada Tribun Jateng, Selasa (2/2).
Menghadapi tantangan di masa pandemi covid-19, utamanya dalam masa penerapan PPKM, Andi menuturkan, para pelaku usaha dinilai perlu melakukan beberapa hal, di antaranya melakukan pemeriksaan kondisi likuiditas (cash on hand).
Langkah itu dilakukan agar para pelaku usaha benar-benar mengetahui posisi keuangan, sehingga efisiensi dan efektivitas dapat menjadi prinsip utama.
"Dalam sebuah usaha setidaknya terdapat cash on hand untuk menjalankan roda operasional selama 12 bulan ke depan," ujarnya.
Selain itu, Andi menyatakan, pelaku usaha perlu melakukan penghematan untuk operasional, selain itu menggali value usaha yang dimiliki, sehingga mampu memiliki keunggulan kompetitif secara berkelanjutan di tengah pandemi.
Dia menambahkan, pelaku usaha juga perlu mencari peluang-peluang pendanaan (fundraising) dan alternatif investasi dengan lembaga keuangan, perbankan, fintech, venture capital, serta pihak-pihak yang menyediakan permodalan usaha, dan tetap membangun networking atau social capital, serta langkah-langkah sinergitas dengan pihak eksternal untuk keberlanjutan usaha.
“Satu hal yang juga penting untuk dilakukan para pelaku usaha di masa PPKM ini ialah mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi serta digital dalam menjalankan seluruh aktivitas usaha dari hulu ke hilir,” tandasnya.
Ia menilai, langkah yang satu itu dapat dilakukan para pelaku usaha, mengingat di masa ini terdapat perubahan preferensi di masyarakat yang cenderung lebih memilih segala sesuatunya secara online ketimbang offline.
Satu pelaku usaha, Rendy Nugraha Saputra, owner Kedai Kepo, mengungkapkan, telah menggencarkan pemasaran dan layanan pesan bagi konsumen secara digital melalui Instagram, guna mendongkrak penjualan di masa pandemi saat ini.
“Perlahan-lahan usaha kami juga mulai beradaptasi dengan situasi ini melalui pemanfaatan Instagram @kedaikepo12 untuk pemasaran dan pemesanan bagi konsumen. Dengan langkah itu kami pun juga bisa menjangkau pemesanan dari konsumen kami yang berada di luar Kota Semarang,” paparnya.
Pesan online
Tak berhenti di situ, ke depan Rendy juga akan menghadirkan layanan pesan online seperti menggunakan GoFood atau GrabFood bagi konsumen di Kota Semarang. Ia menyadari pentingnya langkah digitalisasi bagi usahanya dalam situasi saat ini.
Senada diungkapkan pengelola Kopi Kellon, Angga Resa Wahyudi. Selain memasarkan secara offline dengan menghadirkan tenant di beberapa titik di Kota Semarang, guna mendongkrak penjualan Kopi Kellon juga memanfaatkan pemesanan secara online, baik melalui GoFood atau GrabFood agar dapat lebih memudahkan konsumen dalam memesan.
Adapun, belanja online semakin digemari masyarakat di tengah pandemi covid-19. Ekonom INDEF, Bhima Yudhistira memperkirakan total nilai transaksi marketplace di tahun ini akan meningkat ke kisaran Rp 330 triliun-Rp 350 triliun.
Hal itu seiring dengan perubahan pola konsumsi kelas menengah dan atas ke transaksi pembelian barang secara online. Selain itu, pandemi covid-19 juga membuat masyarakat lebih memilih untuk belanja online.
Menurut dia, data google mobility index menunjukkan mobilitas penduduk secara nasional ke tempat perbelanjaan per 22 Januari 2021 masih minus 29 persen.
“Ini menunjukkan dengan kasus harian covid-19 yang tembus 1 juta atau masih (bisa lebih-Red) tinggi, membuat masyarakat cenderung menahan diri untuk belanja di luar rumah,” tuturnya, baru-baru ini.
Bhima mengungkapkan, peningkatan penjualan online itu juga dipandang masih akan kuat akibat pelaku marketplace yang masih akan gencar menawarkan promo dan diskon untuk menarik pembeli. Di sisi lain, dia menambahkan, Indonesia juga memiliki bonus demografi yang dipandang lebih melek digital, sehingga membuat penetrasi marketplace makin besar.
Adapun, menurut data yang diterima Kontan, total nilai transaksi empat marketplace terbesar di Indonesia sepanjang 2020 sebesar Rp 276,87 triliun, sedangkan total nilai transaksi 14 marketplace terbesar di Indonesia di tahun lalu mencapai Rp 327,49 triliun.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo yakin, tren ekonomi dan keuangan digital akan semakin marak. Tak hanya terkait dengan penjualan marketplace, tetapi juga pengunaan uang elektronik, dan transaksi digital banking, apalagi di tengah pandemi covid-19 yang mempersempit pergerakan aktivitas.
Untuk transaksi e-commerce, Perry memperkirakan, pada 2021 bisa mencapai Rp 337 triliun, atau naik 33,2 persen dari perkiran di tahun lalu.
“Meningkatnya preferensi dan akseptasi masyarakat terhadap teknologi digital akan semakin mendorong pesatnya transaksi ekonomi digital,” tuturnya, baru-baru ini. (*/Kontan/Bidara Pink)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/dampak-ppkm-pada-mal3.jpg)