Breaking News:

Opini

Siasat Seniman Berkarya di Era Pandemi

Disrupsi tak hanya melanda dunia bisnis dan media, tetapi juga merambah ke berbagai sektor kehidupan, termasuk juga jagad kesenian.

TRIBUN JATENG
Opini Tribun Jateng 3 Februari 2021 

TRIBUNJATENG.COM - Tersebab pandemi Covid-19, fenomena yang terjadi masyarakat menggeser aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia maya. Guru Besar Harvard Business School, Clayton M. Cristhensen melalui bukunya yang berjudul The Innovator Dilemma (1997) menerangkan disrupsi adalah perubahan besar yang mengubah tatanan.

Era disrupsi merupakan fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata beralih ke dunia virtual. Disrupsi memang membawa konsekuensi pada cara dan pendekatan baru, hal ini karena khalayak dan lanskap yang berubah baik itu di bidang komunikasi, bisnis dan lainnya. Namun itu membawa kita pada era yang mengasah kemampuan berfikir dan berinovasi menjadi manusia yang lebih maju. Dicontohkannya, fenomena menjamurnya e-commerce hari ini merupakah salah satu contoh disrupsi.

Namun tidak semata disrupsi pada bidang bisnis, hal ini juga mempengaruhi perilaku komunikasi masyarakat yang biasa menikmati santapan informasi melalui media massa mainstream, kini beralih ke digital. Tidak hanya koran, media elektronik seperti radio dan televisi pun perlu bersiap (Prof. Musta’in MSi).

Namun, kini disrupsi tak hanya melanda dunia bisnis dan media, tetapi juga merambah ke berbagai sektor kehidupan, termasuk juga jagad kesenian. Pasalnya, seniman salah satu yang paling terdampak dari gempuran pandemi covid 19.

Antara Kudeta Myanmar dan Demokrat

Faksi Marzuki Alie hingga Anas Bersatu Disebut Ingin Kudeta AHY, Bakal Ada Demokrat Tandingan

Sinopsis Ikatan Cinta RCTI Rabu 3 Februari Pukul 19.30 WIB Andin Batal Gugat Cerai

Seniman menciptakan karya seni dalam konteks kreasi baru tidak selalu adanya perubahan sedemikian radikal. Perubahan itu harus merupakan suatu perubahan yang mendasar, yang prinsipil. Perubahan itu bisa berupa perubahan komposisi, bentuk, penampilan, konsep atau tujuan karya (A.A. M Djelantik, 1999).

Jadi proses kreativitas dalam melahirkan karya seni tidak selamanya harus melahirkan sesuatu yang belum ada. Akan tetapi kreativitas menuntut seniman menciptakan sesuatu yang berbeda dari sebelumnya. Pada dasarnya karya seni berangkat dari realitas sosial. Begitu juga dengan kreativitas seniman dalam berkarya, mewujudkan karya berangkat dari realita, lingkungan, budaya yang telah dialami akan tetapi dalam kreasi yang baru.Kreasi yang baru merupakan proses kreatif seniman dalam mencari ide dan mewujudkan karya seni.

Seniman yang kehilangan panggung, wadah kegiatan, gegara pandemi Covid-19 ini dengan dukungan teknologi digital memindahkan tempat pentasnya ke panggung digital, melalui fitur live streaming dari aplikasi Zoom, Instagram, Facebook, Youtube dan lainnya.

Di era disrupsi ini justru para seniman mempunyai panggung virtual yang bisa dinikmati dari audiens seluruh pelosok dunia. Globalisasi mengakibatkan semua peristiwa yang terjadi di seluruh penjuru dunia dengan mudah dapat di ketahui. Globalisasi menyebabkan dunia semakin sempit. Seniman yang kreatif di era disrupsi ini dengan panggung digital (dunia maya) makin mendunia.

Semisal, seniman multi talenta asal Lampung Robi Akbar, sebelum pandemi Covid-19 melanda justru sudah sekira setahun lalu menjadikan Instagram, Facebook, dan You Tube sebagai panggungnya.

Suling- suling bermerek “Juang Flute” karya Robi yang kini bermukim di Madura, sudah tersebar hampir ke kota-kota seluruh penjuru Indonesia . Bahkan banyak pelanggannya dari berbagai belahan dunia, seperti; Singapura, Brunei Darusalam, London UK, California, Minneapolis , dan Atlanta.

Teater Lingkar dari Semarang juga tak kehilangan langkah di tengah pandemi Covid-19 ini menyapa para audiensnya melalui live streaming di kanal Youtube. Menurut pendiri sekaligus sutradara Teater Lingkar, Suhartono Padmo Sumarto,yang akrab dipanggil Maston Lingkar ini jangka kudu dijangkah. Teater Lingkar harus terus mementaskan karya, karena karya itu baginya merupakan sebentuk ibadah.

Teater Lingkar yang merupakan grup teater tertua di Semarang yang rutin manggung di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang ini bekerja sama dengan Radjawali Semarang Cultural Centre (RSCC) menggelar lakon“Orang Kasar” (Orang-orang Kasar Penagih Hutang) karya Anton Chekov adaptasi WS Rendra di Gedung Radjawali Semarang Cultural Centre (RSCC) dengan live streaming via akun You Tube-nya.

Grup Wayang Orang (WO) Ngesti Pandowo, Semarang, yang biasanya manggung setiap akhir pekan di Gedung Narto Sabdo di Komplek Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang juga vakum. Sejak pandemi tak pernah pentas. Kemudian atas saran Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, grup Wayang Orang yang kini berusia 83 tahun merambah kanal Youtube. Pimpinan Grup Wayang Orang Ngesti Pendowo Djoko Sutrisno mengatakan setidaknya 3 kali seminggu WO tertua di Indonesia ini menyapa audiennya lewat live streaming di kanal Youtube-nya.

Letkol Ginda Kaget Dr Aqua Umrohkan Prajuritnya

Gara-gara Tudingan Penggemar, Betrand Peto Minta Konsultasi ke Psikolog, Ruben Onsu: Saya Panik

Bunda Literasi Resmikan Gazebo di Pantai Alam Indah, Tingkatlan Minat Baca di Tempat Wisata

Di penggal akhir Juni 2020, penyair multi talenta Sosiawan Leak meluncurkan buku puisi bertajuk: “Rumah–Mu Tumbuh di Hati Kami , Kumpulan Puisi Puasa di Pandemi Korona”. Uniknya, buku penyair kelahiran Surakarta ini, selain teks, audiens bisa menikmatinya dalam format video puisi cukup dengan memindai QR Code yang ada pada setiap puisi. Ini merupakan konvergensi media “3 in 1” antara televisi, cetak, dan internet yang disuguhkan dalam sebuah buku. Ke depan nampaknya, langkah ini sepertinya bakalan populer di dunia penerbitan dan jadimsebuah trend setter.

Pandemi Covid–19 tak bisa dipungkiri juga menghantam dan memporakporandakan panggung kehidupan seniman. Tetapi, karena seniman memiliki modal kreatif dengan melakukan adaptasi dan inovasi menjadikan disrupsi untuk terus melangkah untuk unjuk karya. Seniman dengan sentuhan teknologi ikut merambah panggung digital yang mau tak mau harus digelutinya, kalau tak ingin kandas eksistensinya dan tersingkir dari jagad kesenian. Muaranya, seniman yang mau terus melakukan eksplorasi estetis dengan dukungan kreativitas dan teknologi yang akan tetap bertahan di era pandemi. (*)

Penulis: -
Editor: moh anhar
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved