Gerakan Menolak Kudeta Terus Meluas, Militer Myanmar Kini Tahan Ajudan Suu Kyi

Win Htein adalah seorang pendukung NLD yang telah berulang kali keluar-masuk penjara berkampanye melawan kekuasaan militer.

Editor: Vito
STR/AFP
Seorang tentara berjaga di jalan yang diblokade menuju parlemen Myanmar di Naypyidaw pada 1 Februari 2021, setelah militer menahan pemimpin de facto Aung San Suu Kyi dan presiden negara itu dalam kudeta. 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Setelah pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi ditahan, kini ajudan utamanya juga ditahan pada hari kelima kudeta milter Myanmar.

Penangkapan ajudan utama Suu Kyi, bernama Win Htein, terjadi pada Jumat (5/2), sebagaimana dilansir dari AFP.

Win Htein merupakan tangan kanan Suu Kyi. Dia ditangkap di rumah putrinya di Yangon. Kabar penangkapan Win Htein dilaporkan pejabat pers untuk Partai National League of Democracy (NLD).

Win Htein adalah seorang pendukung NLD yang telah berulang kali keluar-masuk penjara berkampanye melawan kekuasaan militer.

Menjelang penangkapannya, Win Htein mengatakan kepada media lokal berbahasa Inggris, Frontier Myanmar, bahwa kudeta militer itu tidak bijaksana.

Dia juga menyebut bahwa para pemimpin militer yang melakukan kudeta telah membawa Myanmar ke arah yang salah.

"Setiap orang di negara ini harus menentang sebisa mungkin terhadap tindakan yang mereka (militer) upayakan untuk membawa kami kembali ke titik nol dengan menghancurkan pemerintah kami," paparnya, kepada Frontier Myanmar.

Assistance Association for Political Prisoners, lembaga yang berbasis di Yangon, yang memantau penangkapan politik di Myanmar. mengatakan, lebih dari 130 pejabat dan anggota parlemen telah ditahan sehubungan dengan kudeta tersebut. 

Penyedia layanan telekomunikasi di Myanmar juga telah diperintahkan untuk membatasi akses terhadap Facebook. Karena akses terhadap Facebook dibatasi, banyak orang Myanmar yang bermigrasi ke Twitter.

Sebagian di antara mereka menggunakan layanan VPN untuk menerobos pembatasan Facebook. Tagar yang menentang kudeta, termasuk #HearTheVoiceofMyanmar dan #RespectOurVotes, menjadi tren di Twitter di Myanmar pada Jumat, dengan lebih dari 7 juta unggahan.

Sebuah gerakan yang dinamakan Gerakan Pembangkangan Sipil telah menguat dan menghimpun kekuatan di jagat maya.

Gerakan itu menyerukan kepada publik agar menyuarakan penolakan kudeta setiap malam dengan membunyikan suara-suara untuk menunjukkan kemarahan mereka.

Pada Kamis (3/2) pukul 20.00 waktu setempat, jalanan di Yangon dipenuhi dengan suara klakson mobil untuk menyerukan penolakan terhadap kudeta. "Saya tidak bisa tidur atau makan sejak kudeta," kata penduduk Yangon, Win Bo kepada AFP.

Win Bo mengaku sebagai satu orang yang berada di garis depan selama aksi pro-demokrasi pada 1988. "Sekarang saya menghadapinya lagi. Saya tidak dapat menerima kudeta ini. Saya ingin melakukan revolusi bersenjata jika memungkinkan," tukasnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved