Gerakan Massa Menentang Kudeta Myanmar Terus Berlanjut

Pengunjuk rasa memegang balon merah, sementara mobil dan bus melambat serta membunyikan klakson. Banyak yang memberikan salam tiga jari.

Editor: Vito
STR / AFP
Para pengunjuk rasa mengambil bagian dalam aksi demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada Minggu (7/2). Unjuk rasa yang diikuti puluhan ribu orang itu merupakan protes besar hari kedua, setelah sebelumnya digelar pada Sabtu (6/2). 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Puluhan ribu orang melakukan protes besar untuk menentang kudeta hari kedua di Kota Yangon, Myanmar, Minggu (7/2).

Gerakan itu tidak bisa dibendung, menyusul pemblokiran internet yang diberlakukan penguasa militer. "Kami tidak ingin kediktatoran militer," teriak banyak demonstran.

Banyak yang memegang foto pemimpin yang ditahan, Aung San Suu Kyi. Mereka mengenakan pakaian merah, warna partai Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin Suu Kyi. Suu Kyi tidak terlihat lagi sejak tentara menggulingkan pemerintahannya Senin (1/2) lalu.

Demonstrasi yang lebih kecil dilaporkan terjadi di Kota Mawlamine, dan Mandalay. Beberapa gambar dan video protes telah diunggah ke internet, meskipun baru sebagian yang menyala lagi, sejak penguasa militer memutuskan jaringan pita lebar itu sejak hari Sabtu (6/2).

Sebelumnya, militer juga memblokir akses ke Facebook, Twitter, dan Instagram untuk menghalangi orang-orang bergerak menggalang aksi unjuk rasa. Jaringan telepon juga masih terganggu.

Di Yangon, pengunjuk rasa memegang balon merah, sementara mobil dan bus melambat serta membunyikan klakson untuk mendukung demonstran.

Banyak yang memberikan salam tiga jari, yang telah menjadi simbol perlawanan terhadap otoritarianisme di wilayah tersebut. "Hormati suara kami," tertulis di satu spanduk yang merujuk pada kemenangan telak NLD dalam pemilihan November.

Myo Win, seorang pengunjuk rasa berusia 37 tahun, mengatakan kepada kantor berita AFP, "Kami akan bergerak maju dan terus menuntut sampai kami mendapatkan demokrasi."

Sejauh ini, otoritas militer, yang dikenal dengan taktik penindasan dan kekerasan, tidak menghentikan aksi pembangkangan massal ini.

Namun, banyak orang berasumsi otoritas akan mencoba melakukannya dalam waktu dekat, lapor koresponden BBC Asia Tenggara, Jonathan Head.

Suu Kyi dan para pemimpin senior NLD, termasuk Presiden Win Myint, telah menjadi tahanan rumah sejak militer mengambil kendali pemerintah dan mengumumkan keadaan darurat selama setahun.

Truk polisi dan petugas anti huru hara ditempatkan di jalan-jalan dekat Universitas Yangon pada Minggu (7/2), tapi belum ada laporan tentang kekerasan.

Protes hari Minggu disebut sebagai yang terbesar sejak apa yang disebut Revolusi Saffron pada 2007, ketika ribuan biksu negara itu bangkit melawan rezim militer, lapor kantor berita Reuters.

Otoritas militer belum berkomentar. Mereka ada di ibu kota, Nay Pyi Daw, dan sejauh ini menghindari keterlibatan langsung dengan para pengunjuk rasa.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved