Breaking News:

Book Lover

Memilih Cara Hidup Sederhana berdasar Psikologi Jawa

"Orang Jawa itu kudu kalem, tenang, dan jangan ngaya (memaksakan diri) hidupnya". Demikian yang dilakoni Probowatie Tjondronegoro.

TRIBUN JATENG
Book Lover - Probowatie Tjondronegoro 

TRIBUNJATENG.COM - Koleksi bukunya ada di mana-mana. Bisa di ruang kantor dkerja, mobil, kamar tidur, ruang tamu, bahkan hingga di kamar mandinya pun ada. Begitu diungkapkan Probowatie Tjondronegoro saat menceritakan kecintaannya pada aktivitas membaca.

Di usianya yang sudah melebihi setengah abad itu, Probo, panggilannya, masih selalu menyempatkan tiap harinya untuk membaca, apapun bukunya. Minimal, dia membaca sejam per harinya. Maka dari itu, tiap ruang privat yang Probo miliki harus tersimpan sejumlah koleksi buku untuk dibacanya ketika senggang.

"Karena saya orangnya kurang suka jalan-jalan gitu. Dari kecil, cara saya menghabiskan waktu adalah dengan membaca. Sejak kecil, bapak saya selalu memberikan oleh-oleh berupa buku. Entah itu buku cerita atau komik. Itu cara saya menghibur diri sampai sekarang," ungkap ibu berusia 68 tahun itu saat ditemui Tribun Jateng.

Waktu yang paling Probo sukai saat membaca buku adalah ketika malam hari dan di kamar mandi. Probo yang merupakan Dosen Psikologi di Universitas Semarang (USM) ini bilang, dari pada melamun tak jelas, ia lebih suka membaca. Maka tak heran, salah satu koleksi bukunya pernah terjatuh dan basah di kamar mandi.

Probo mengatakan, mungkin hiburannya dalam menghabiskan waktu sendiri hanya ia peroleh dari membaca buku. Sebab, ia mengaku jika dirinya sudah ketinggalan zaman. Bahkan untuk melihat tayangan Youtube pun ia harus dibantu oleh cucu dan anak-anaknya.

"Aku itu terbilangnya gaptek. Sekarang pun seringnya dibantu sama anak dan cucu. Untungnya saya punya kesenangan sendiri, yakni membaca. Entah itu membaca majalah, komik, buku, dan sejenisnya. Itu bisa saya lakukan dimana pun karena koleksi saya tersebar. Makanya, meski gaptek, saya selalu merasa lebih tahu duluan. Walau tak bisa dipungkiri, informasi dari media sosial sungguh masih dan cepat," cerita Probo yang bertugas juga sebagai Humas di RS St Elizabeth Semarang itu.

Selain kesenangan, aktivitas membaca buku memang dibutuhkan Probo, mengingat bahwa dirinya adalah seorang pengajar, akademisi, dan psikolog. Dari banyaknya karya dan literasi yang pernah dibacanya berulang kali selama hampir puluhan tahun, ia ternyata punya tiga pegangan buku wajib. Buku tersebut sangat istimewa bagi warga Semarang Barat, Kota Semarang ini.

Buku tersebut antara lain, Psikoterapi Jawa karya Abdul Kholik, Psikologi Jawa oleh Darmanto Jatman, dan Psikologi Suryomentaraman dari Afthonul Afif. Semua buku tersebut, jelas Probo, ternyata merujuk pada seorang sosok bernama Ki Ageng Suryomentaram.

Dia menceritakan, sosok ini adalah seorang anak dari Sri Sultan Hamengku Buwono VII, Raja Yogyakarta yang melepas status kebangsawannya sebagai pangeran lantaran ingin melebur bersama rakyat. Prinsip dan falsasah hidup Ki Ageng ini banyak diangkat, ditulis, dan dijadikan rujukan oleh para psikolog. Termasuk Probo.

"Karena aku jawa banget. Dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan yang jawa. Semua prinsip hidup kejawaan benar-benar selalu saya jadikan pegangan hidup, termasuk pegangan dalam mengajar dan menerapi pasien. Saya belajar dari kisah beliau (Ki Ageng). Itu tiga buku rujukan dasar saya, meski tetap tak ditinggalkan landasan teori lain dari barat," paparanya.

Probo bercerita, awal mengenal psikologi sejak tahun 1987. Mulanya, buku yang terus dipelajari dan dibaca berulang kali oleh Probo adalah karya Darmanto Jatman, Psikologi Jawa terbitan tahun 1997. Ia pun sempat menjadi asisten dosen dari mendiang Darmanto. Seistimewanya buku itu membuat Probo selalu menugaskan kepada tiap mahasiswanya untuk membuat resume Psikologi Jawa.

Tiap mengajar mahasiswa yang baru ditemuinya itu, Probo akan memberikan tugas me-resumePsikologi Jawa. Ia terapkan bahkan hingga saat ini. Dari tiga buku tersebut, hal yang didapat Probo adalah tentang menemukan kesadaran diri paling dalam dengan kesederhanaan dan rasa mudah bersyukur.

"Orang Jawa itu kudu kalem, tenang, dan jangan ngaya (memaksakan diri) hidupnya. Maka dalam pengembangannya, kita perlu menerapkan 6 Sak, yakni sak butuhe (sebutuhnya), sak penake (seenaknya), sak cukupe (secukupnya), sak mestine (semestinya), sak benere (sebenarnya), dan sak perlune (seperlunya). 
Hal itu terkandung agar orang tidak ngaya. Kalau cukup segini, ya sudah. Kita sebagai manusia benar-benar diajak harus mudah bersyukur. Jangan menjadikan orang lain sebagai tolak ukur kehidupan kita atau istilah Jawanya ngukur sariro," beber Probo. (gum)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: moh anhar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved