Aksi Menentang Kudeta Myanmar Memanas, Polisi Tembak Pendemo dengan Peluru Karet

Polisi menembakkan peluru karet ke demonstran setelah menyemprot mereka dengan meriam air (water cannon). Tiga orang terluka akibat tembakan.

Editor: Vito
STR / AFP
Polisi menembakkan meriam air ke arah para pengunjuk rasa yang menggelar aksi dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Nay Pyi Taw, Myanmar, Selasa (9/2). Polisi juga menembakkan peluru karet ke arah demonstran, menangkap 27 pendemo, hingga memukuli massa. 

TRIBUNJATENG.COM, NAY PYI TAW - Polisi menembakkan peluru karet ke demonstran anti-kudeta di ibu kota Myanmar pada Selasa (9/2), saat unjuk rasa semakin memanas. Hal itu mengakibatkan setidaknya tiga demonstran terluka parah.

Demo anti kudeta Myanmar sudah berlangsung selama 4 hari terakhir, kendati ada peringatan dari militer bahwa mereka akan menindak siapa pun yang mengancam stabilitas.

Saksi mata mengatakan, polisi menembakkan peluru karet ke demonstran setelah menyemprot mereka dengan meriam air (water cannon).

"Mereka melepaskan tembakan peringatan ke atas dua kali, kemudian menembak (ke arah pengunjuk rasa-Red) dengan peluru karet," kata seorang warga, kepada AFP.

Sementara itu Reuters mewartakan, sebuah klinik di Nay Pyi Taw merawat tiga orang yang terluka akibat tembakan peluru karet.

Dokter yang merawat mereka berkata kepada Reuters, klinik itu memberikan perawatan pertama sebelum para pasien yang mengalami luka di kepala dibawa ke rumah sakit.

Di hari keempat demonstrasi massal, demonstran berhadapan dengan polisi yang menembakkan meriam air di Kota Bago.

Meriam air juga berulang kali ditembakkan ke kerumunan pengunjuk rasa di Nay Pyi Taw, yang menolak mundur, menurut kantor berita Reuters. "Akhiri kediktatoran militer," teriak para demonstran.

BBC Burma melaporkan pengunjuk rasa di Nay Pyi Taw bahkan didukung seorang petugas polisi. Para pengunjuk rasa telah meminta petugas polisi untuk bergabung dengan tujuan mereka.

Para pedemo membawa papan bertuliskan, "Kami ingin pemimpin kami" mengacu pada Aung San Suu Kyi yang ditahan militer, serta "Jangan ada kediktatoran".

Sejumlah guru juga ikut berdemo di San Chaung Yangon, mengacungkan salam tiga jari yang menjadi simbol unjuk rasa.

"Kami tidak peduli dengan peringatan mereka. Itu sebabnya kami keluar hari ini. Kami tak bisa menerima alasan mereka untuk kecurangan pemilu. Kami tidak mau ada kediktatoran militer," ujar guru Thein Win Soe kepada AFP.

Ditangkap

Polisi Myanmar juga menangkap puluhan pedemo anti-kudeta militer yang menggelar aksi protes di ibu kota Nay Pyi Taw dan Mandalay pada Selasa (9/2). Setidaknya 27 orang pedemo dikabarkan ditangkap oleh polisi.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved