BI Serius Pacu Penurunan Suku Bunga Kredit Bank, Risiko Pandemi Jadi Penghambat

Hingga kini, penurunan suku bunga acuan BI-7DRRR hingga level 3,75 persen belum begitu direspon dengan penurunan suku bunga kredit bank.

Editor: Vito
KONTAN/Fransiskus Simbolon
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menunjukkan keseriusannya mendorong transparansi suku bunga perbankan, sebagai satu bagian dari upaya mempercepat penurunan suku bunga.

Bank sentral berencana membuat beleid mengenai transparansi suku bunga tersebut. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan BI-7DRRR hingga level 3,75 persen belum begitu direspon dengan penurunan suku bunga kredit bank. Transmisi suku bunga dari bank sentral ke perbankan terkesan cukup lambat.

"Mengenai transparansi suku bunga, kemarin sudah dibahas di KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan). Kami bersama KSSK bertanya kenapa suku bunga (kredit) belum turun?" kata Gubernur BI, Perry Warjiyo, dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, secara virtual, Selasa (9/2).

Ia menilai, transparansi diperlukan untuk mengetahui komponen mana saja dari suku bunga kredit yang lambat ditransmisikan. Seperti diketahui, suku bunga kredit dibentuk oleh Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) dan premi risiko.

"Suku bunga belum turun apa karena premi risikonya? Premi risikonya masalahnya apa? Apa perlu penjaminan? atau SBDK-nya yang belum turun?" ucapnya.

Sementara itu, SBDK terdiri dari beberapa komponen, antara lain cost of fund, suku bunga dana, biaya overhead, dan margin keuntungan bank.

"Kalau cost of fund (CoF) turun tapi SBDK belum turun ini masalahnya apa? Apakah karena biaya overhead atau karena margin dari bank? Itu yang dimaksud transparansi," jelasnya.

Untuk meningkatkan transparansi, ada tiga tahap yang dilakukan bank sentral. Tahap pertama adalah publikasi asesmen suku bunga kredit berdasarkan SBDK dan spread SBDK.

Tahap kedua adalah menerbitkan PBI untuk menggantikan Peraturan OJK terkait dengan SBDK sebagai dasar publikasi.

Sementara tahap terakhir adalah menguatkan efektivitas transmisi suku bunga dengan menerapkan benchmark rate. "Tentu saja kami akan publikasikan asesmennya dengan menggunakan laporan bank-bank yang ada di OJK," terangnya.

Adapun, tren penurunan suku bunga kredit perbankan tahun ini diperkirakan akan terus berlanjut. Meski deikian, penurunan suku bunga kredit konsumsi diprediksi akan lebih lambat ketimbang kredit investasi dan modal kerja.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede menuturkan, penurunan bunga kredit perbankan tahun ini masih akan berkiatan dengan transmisi penurunan suku bunga acuan BI pada 2020 yang belum sepenuhnya optimal.

Tahun lalu, BI telah menurunkan bunga acuan BI 7-day reverse repo rate (BI7DRR) sebanyak 125 basis poin (bps). Hasil dari kebijakan itu, suku bunga konsumsi baru turun 65 bps, sementara suku bunga modal kerja turun 88 bps, dan suku bunga kredit investasi turun 102 bps.

Penyesuaian penurunan suku bunga kredit perbankan yang cenderung lambat itu, menurut dia, dipengaruhi risiko kredit yang cenderung meningkat di masa pandemi. "Terutama karena adanya penurunan aktivitas ekonomi dari sisi permintaan dan penawaran," tuturnya.

Halaman
12
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved