Breaking News:

Berita Semarang

Ketersediaan Perahu Karet untuk Mobilisasi dan Evakuasi Korban Banjir Semarang Sangat Minim

Bencana banjir di Kota Semarang belum kunjung surut hingga Rabu (10/2/2021).

Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: sujarwo
TRIBUN JATENG/EKA YULIANTI FAJLIN
Sebuah perahu karet ditempatkan di Genuksari, Kecamatan Genuk, untuk evakuasi warga, Selasa (9/1/2021) lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Bencana banjir di Kota Semarang belum kunjung surut hingga Rabu (10/2/2021). Penanggulangan pun masih terus dilakukan oleh sejumlah instansi baik pemerintah, TNI, Polri, dan para relawan.

BPBD Kota Semarang masih terkendala minimnya perahu karet untuk evakuasi atau mobilisasi warga yang terdampak banjir. Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kota Semarang, Abel Monteiro, saat rapar koordinasi penanganan bencana di kantor DPRD kota Semarang, Rabu (10/2/2021).

Abel menyebutkan, personil BPBD untuk penanggulangan bencana sudah memadai. Hanya, peralatan memang tidak memenuhi untuk penanggulangan seluruh wilayah Kota Semarang. Satu diantaranya, ketersediaan perahu karet.

BPBD hanya memiliki lima perahu karet. Padahal, wilayah yang terdampak banjir ada 11 kecamatan. Tentu saja, mobilisasi sangat kurang.

"Contoh, akses kemarin di Hasanudin, hanya mau ke luar rumah saja susah, apalagi Ibu hamil, lansia. Sana manggil, situ manggil. Sangat terbatas," ungkap Abel.

BPBD sendiri sudah mengajukan bantuan perahu karet kepada Pemerintah Provinsi dan Pusat. Hingga saat ini, pihaknya masih menunggu bantuan tersebut.

Dapur umum, sambung dia, sudah cukup memadai. Ada dua truk dapur umum untuk kebutuhan emergensi. Selain itu, BPBD juga membuat dapur umum di kantor BPBD. Setiap wilayah juga sudah terdapat dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan warga.

"Kami stand by truk evakuasi di Kaligawe untuk membantu mobilitas warga. Sekaligu, kami buat dapur umum di sana," tambahnya.

Abel menyampaikan, BPBD mencatat ada 11 kecamatan dengan total 110 kelurahan yang tergenang banjir.

Adapun yang terdampak bencana banjir sebanyak 27.346 KK dengan jumlah 101.366 jiwa. Dari jumlah itu, ada 203 KK dengan jumlah 697 jiwa yang mengungsi.

"Itu data baru enam kecamatan yaitu Genuk, Gayamsari, Candisari, Semarang Timur, Semarang Tengah, dan Tugu. Data riil keseluruhan belum diperoleh. Kalau estimasi wilayah yang belum dihitung rata-rata itu 75-100 KK baik yang mengungsi maupun korban harta benda," jelas Abel.

Selain bencana banjir, Abel menyebutkan, tanah longsor juga terjadi di beberapa titik. Begitu pula angin puting beliung terjadi di tiga lokasi. Namun, angin puting beliung hanya menyebabkan kerusakan harta benda tanpa menimbulkan korban. 

Bencana yang terjadi di Kota Semarang telah memakan lima korban meninggal dunia. Yakni, satu warga Jomblang dan satu warga Cinde yang tertimpa reruntuhan longsor, satu orang tersengat listrik akibat banjir, satu orang warga meninggal karena banjir, serta satu lainnya masih dalam pencarian karena tersapu ombak.

"Dia belum ketemu karena gelombang pasang, terbawa laut dua hari yang lalu," imbuhnya.

Saat ini, tiga wilayah masih menjadi perhatian penuh BPBD yaitu Kecamatan Genuk, Gayamsari, dan Semarang Utara. Dia menempatkan sejumlah relawan di sama untuk membantu warga dalam menanggulangi banjir. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved