Breaking News:

Berita Karanganyar

Jarak Towo dan Kopi Lawu Resmi Dipatenkan Milik Kabupaten Karanganyar

Pemkab Karanganyar telah selesai mematenkan dua varietas lokal berupa singkong Jarak towo dan Kopi Lawu. 

Tribun Jateng/Agus Iswadi
Petani saat memperlihatkan singkong jarak towo. 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar telah selesai mematenkan dua varietas lokal berupa singkong Jarak towo dan Kopi Lawu.

Sudrajat saat memperlihatkan produk olahan berbahan dasar singkong jarak towo.
Sudrajat saat memperlihatkan produk olahan berbahan dasar singkong jarak towo. (Istimewa)

Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (Dispertan PP) Karanganyar, Siti Maesaroh menyampaikan, telah mendaftarkan dua varietas lokal itu pada tahun lalu dan kini telah mendapatkan sertifikat tanda daftar dari Kementerian pertanian. 

Dia menjelaskan, pendaftaran ke kementerian itu dilakukan untuk menghindari adanya klaim dari daerah lain terhadap dua varietas tersebut. Di sisi lain pendaftaran produk lokal ini supaya dapat dikenal banyak orang sehingga kedepannya petani juga dapat mendapatkan keuntungan dari varietas tersebut. 

"Supaya tidak diaku daerah lain (klaim). Produksi lokal kita daftarkan ke kementerian," katanya saat dihubungi Tribunjateng.com, Senin (15/2/2021). 

Dia menjelaskan, memang jarak towo dan kopi lawu sudah ditanam di beberapa daerah meskipun jumlahnya belum begitu banyak. Jarak towo banyak ditanam di wilayah lereng pegunungan seperti Jatiyoso, Jenawi, dan Ngargoyoso. Sedangkan kopi lawu baru ditanam di wilayah Jenawi dan Jatiyoso.

Menurutnya, varietas ini hanya bisa ditanam di wilayah tertentu supaya hasilnya dapat optimal. Pasalnya Siti pernah mencoba menanam jarak towo di wilayah lain tapi hasilnya tidak optimal baik itu tekstur ketelanya maupun rasanya. 

Terpisah, pengusaha olahan berbahan jarak towo, Sudrajat menyambut baik dengan dipatenkannya varietas lokal tersebut. Dengan adanya hak paten ini tentu tidak akan terjadi lagi perbedaan nama. Mengingat ada masyarakat yang menyebut varietas itu jalak towo. 

"Sekarang kan sudah dipatenkan. Jarak towo," ucapnya. 

Sudrajat telah membuat bermacam-macam varian olahan sejak memulai usaha kuliner menggunakan bahan dasar jarak towo pada 2019 lalu. Baik itu donat, brownies, gethuk dan lainnya. 

"Sebenarnya jarak towo bisa dibuat makanan kekinian dan tradisional. Asalkan jarak towo asli," ungkapnya. 

Dia berharap lahan yang digunakan untuk penanaman jarak towo dapat diperluas lagi. Mengingat di wilayah Tawangmangu yang lahannya sangat berpotensi untuk pengembangan belum begitu banyak yang ditanami jarak towo. 

Pemilik usaha Si Jarwo itu menuturkan, selama pandemi dirinya sengaja mengurangi jumlah produksi olahan berbahan jarak towo. Sebelum pandemi, dirinya dapat mengolah sekitar 4 kuintal jarak towo. Namun selama pandemi ini hanya sekitar 1 kuintal. 

"Alhamdulillah selama ini tidak ada kendala soal bahan. Biasanya langsung ambil langsung dari petani di Wonorejo Jatiyoso. Per kilo minimal Rp 3.500, itu kotor. Kalau bersih bisa sampai Rp 4.000-4.500. Belum lagi kalau sampai pasar, ditambah biaya transport, packaging bisa sampai Rp 5.000 hingga Rp 6.000," pungkasnya. (*)

Penulis: Agus Iswadi
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved