Breaking News:

Human Interest

Pegon, Aksara Khas Pesantrenan Lestari Hingga Kini

Gema suara bacaan kitab kuning nyaring terdengar dari sebuah masjid di pondok pesantren Futuhiyah Mranggen, Demak.

Penulis: Idayatul Rohmah
Editor: Daniel Ari Purnomo
Tribun Jateng/ Idayatul Rohmah
Aktivitas memaknai kitab kuning di Pondok Pesantren Futuhiyah, Mranggen Demak beberapa waktu lalu. 

Penulis: Idayatul Rohmah

TRIBUNJATENG.COM, DEMAK - Gema suara bacaan kitab kuning nyaring terdengar dari sebuah masjid di pondok pesantren Futuhiyah Mranggen, Demak.

Sore itu, para santri lengkap dengan sarung dan peci duduk bersila memerhatikan KH Muhamaf Hafidz yang membaca di depan mimbar.

Melalui indera dengarnya, Muhammad Indra Permana (12) di antara santri yang memerhatikan saksama segera menangkap setiap frasa yang disampaikan pengajar dengan metode bandongan tersebut.

Di kitab bernama akhlaqul lil banin yang dipangkunya, Indra lincah merangkai abjad arab menjadi jawa pegon yang digantungkan di bawah kalimat-kalimat berbahasa Arab.

"Saya sudah lama belajar aksara pegon.

Sekarang sudah lancar maknani kitab 'menulis makna pada kitab' dengan aksara ini," kata Indra, santri asal Kecamatan Bonang saat aktivitas mengaji di pondok pesantren Futuhiyah beberapa waktu lalu.

Kehidupan para santri yang intim dengan penggunaan aksara pegon itu terkadang pula membuat Muhammad Najih Syafi (18) santri lainnya, akrab dengan kegiatan tulis-menulis pegon.

Selain untuk keperluan pribadi, Syafi juga menulisnya saat belajar ilmu tertentu di pendidikan formal.

Ada kebanggaan tersendiri bagi siswa kelas XII Madrasah Aliyah (MA) tersebut ketika bisa menulis kalimat-kalimat dengan aksara pegon.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved