Breaking News:

Relaksasi PPnBM Bisa Buat Harga Mobil Baru Turun hingga Rp 23 Juta

relaksasi PPnBM akan menurunkan harga mobil hingga Rp 23 juta. Asumsinya, mobil yang dibeli adalah kelas mobil sedan dengan besaran PPnBm 10 persen

Editor: Vito
ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR
Petugas keamanan berpatroli di dekat mobil baru yang terparkir di PT Indonesia Terminal Kendaraan atau IPC Car Terminal, Cilincing, Jakarta, Kamis (11/2). 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Kebijakan pembebasan pembebasan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk mobil baru yang akan diberlakukan per 1 Maret 2021 diperkirakan bakal membawa multiplier effect pada perekonomian, mulai peningkatan daya beli masyarakat hingga  penguatan industri otomotif. 

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), Susiwijono Moegiharso mengatakan, relaksasi PPnBM akan menurunkan harga mobil hingga Rp 23 juta.

Asumsinya, menurut dia, mobil yang dibeli adalah kelas mobil sedan dengan besaran PPnBm 10 persen dari harga jual.

Dia menambahkan, perkiraan tersebut itu sesuai dengan ilustrasi yang diberikan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) ketika melakukan rapat dengan pemerintah.

"Rata-rata harga mobil sedan di kisaran Rp 251 juta. Itu on the road-nya, sesudah bea kendaraan, pajak kendaraan bermotor (PKB), PPnBM, dan margin penjualan dealer. Bila PPnBM dibebaskan, maka harga mobil bisa menyentuh kisaran Rp 229 juta. Jadi ada selisih sekitar Rp 23 juta di sana," katanya, dalam diskusi virtual, Selasa (16/2).

Meski demikian, Susi mengakui, penggratisan PPnBM tersebut belum tentu cukup untuk menggerakkan konsumsi masyarakat.

Sebab, besaran diskon yang diberikan pemerintah tersebut cenderung kecil untuk menarik minat masyarakat menengah ke bawah yang pendapatannya tertekan di tengah pandemi.

Dengan kondisi itu, dia menambahkan, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto telah bersurat kepada Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk memberikan relaksasi tambahan.

Selain itu, pihak Kemenko Perekonomian juga bersurat dengan Bank Indonesia (BI) serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Karakteristik pembelian kendaraan motor ini kan sebagian besar kredit, nah untuk itu harus ada revisi kebijakan OJK bagaimana mendorong lagi besaran DP uang muka menjadi 0 persen, dan ATMR kendaraan bermotor," paparnya.

Pengamat Ekonomi, Piter Abdullah menyebut, program relaksasi PPnBM itu akan memanfaatkan daya beli di masyarakat yang masih ada.

"Saya mendukung kebijakan ini, dalam rangka mendorong permintaan. Kebijakan ini cukup tepat apabila menyasar kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas. Kalau kita kembalikan daya belinya, efeknya akan sangat besar bagi pertumbuhan demand kita," jelasnya.

Tujuan relaksasi PPnBM ialah untuk meningkatkan konsumsi dan pilihan untuk mendorong pembelian otomotif, yang dampak dari hulu sampai hilirnya akan sangat besar.

"Ini membantu industri otomotif mampu bertahan sampai menunggu pandemi berakhir. Tentu dengan catatan nantinya kebijakan ini bisa diperluas, tidak hanya menyasar kelompok ekonomi menengah ke bawah,” tuturnya.

“Secara keseluruhan saya mengapresiasi kebijakan ini, karena dengan adanya konsumsi yang kembali tumbuh akan menggerakkan industri, sehingga memunculkan kembali lapangan kerja," paparnya. (Kompas.com/Mutia Fauzia)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved