Breaking News:

Berita Semarang

Di Depan Anggota Komisi IV DPR, PWNU Jateng Serukan Revolusi Hijau Pertanian Organik

PWNU Jateng meminta pemerintah mengembalikan sistem pertanian organik yang ramah lingkungan.

Tribun Jateng/Mamdukh Adi Priyanto
Anggota Komisi IV DPR RI, Luluk Nur Hamidah (kanan) di Kantor PWNU Jateng. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah meminta pemerintah mengembalikan sistem pertanian rahmatan lil alamin yang berbasis alam atau organik yang ramah lingkungan.

PWNU ingin ada revolusi hijau dalam dunia pertanian. Revolusi hijau di sini bukan seperti yang digemborkan pada 1976 hingga 1980 era pemerintah Soeharto yang menerapkan pertanian kimia besar-besaran.

Revolusi hijau yang dimaksud PWNU justru sebaliknya, yakni pertanian yang menggunakan sistem organik. Sehingga tidak membahayakan manusia, lingkungan, serta flora dan fauna.

Hal itu diungkapkan jajaran PWNU Jateng saat bertemu anggota Komisi IV DPR RI, Luluk Nur Hamidah di Kantor PWNU Jateng Kota Semarang, Kamis (18/2/2021).

"Mayoritas warga Nahdliyin di pertanian. Mereka berupaya ada kemandirian pangan. Yang menjadi persoalan sebetulnya ada dua, pasca-panen dan kesuburan tanah," kata Sekretaris PWNU Jateng, KH Hudallah Ridwan Naim.

Kesuburan berkurang lantaran tanah sudah jenuh karena banyaknya penggunaan pupuk kimia. Tentu saja, kondisi itu berpengaruh terhadap jumlah produksi yang berkurang sehingga merugikan petani.

Tidak cukup sampai di situ, kerugian petani berlanjut pasca-panen dimana produk pertanian dibeli sangat murah. Bahkan, jauh dari harga pokok penjualan (HPP).

Karena itu, kata dia, diharapkan pemerintah mengawal para petani terutama saat pasca-panen. Supaya produknya dibeli dengan harga layak dan kesejahteraan petani pun meningkat.

Gus Huda, panggilannya, juga menyebut tanaman kimia atau anorganik sangat berpengaruh terhadap kesehatan, produktivitas tanaman turun, sekian tahun biaya produksi semakin tinggi karena pupuk kimia selalu naik dan dampak penyakit.

"Ada kejadian di Brebes dimana banyak warga satu desa mengalami stunting. Ternyata, air sumur resapan yang digunakan teraliri mata air yang sudah terkontaminasi pestisida dalam waktu lama. Karena daerah di atasnya merupakan pertanian sayur mayur," terangnya.

Halaman
123
Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved