Breaking News:

Berita Pendidikan

Transformasi Vokasi, Kemendikbud Keluarkan Kebijakan Peningkatan Program D-3 Jadi Sarjana Terapan

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan baru.

TRIBUNJATENG/ABDUL ARIEF
Ilustrasi wisuda 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengeluarkan kebijakan baru yaitu peningkatan program Diploma Tiga (D-3) menjadi Sarjana Terapan atau Diploma Empat (D-4).

Kebijakan tersebut merupakan bagian utama transformasi pendidikan vokasi.

Direktur Jenderal (Dirjen) Diksi Kemendikbud, Wikan Sakarinto mengatakan, peningkatan program studi D-3 menjadi sarjana terapan harus memenuhi beberapa syarat, di antaranya adalah perguruan tinggi vokasi (PTV) memiliki program D-3 terakreditasi minimal peringkat B atau baik sekali serta memiliki kebutuhan dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Baca juga: Kemendikbud Luncurkan Program Kampus Mengajar sebagai Upaya Penguatan Pembelajaran di SD

Baca juga: Tumbuhkan Wirausaha Muda di Perguruan Tinggi, Kemendikbud Buka Program Kewirausahaan Mahasiswa

Baca juga: Kemendikbud Dorong Perguruan Tinggi Maksimalkan Platform Kedaireka, Ini Alasannya

 

"Selain itu, PTV juga wajib memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh Ditjen Diksi, seperti mempersiapkan kerja sama dengan DUDI, mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni, kurikulum yang kolaboratif dengan DUDI, serta regulasi akademik yang mendukung," kata Wikan, dalam rilisnya, Rabu (17/2/2021).

Dikatakannya, peningkatan D-3 menjadi sarjana terapan bersifat opsional atau tidak wajib dan disesuaikan dengan kebutuhan link dan supermatch dengan dunia usaha dan dunia industri.

Wikan menyatakan, pada prinsipnya untuk meningkatkan D-3 menjadi sarjana terapan, harus dilakukan bersama DUDI dengan skema taut suai (link and match) 8 + i.

"Di antaranya mencakup kurikulum yang disusun bersama dan berstandar DUDI, sertifikasi kompetensi guru, dosen dan peserta didik yang sesuai standar dan kebutuhan DUDI, project based learning, menghadirkan ahli dari industri secara rutin untuk mengajar, dan seterusnya," paparnya.

Adapun industri yang menjadi pengguna lulusan, boleh berupa usaha mikro kecil menengah (UMKM), kecil, besar, maupun pemerintah daerah. Karenanya, Wikan menekankan, kebersamaan harus dibangun antara PTV dan DUDI.

"Paket menu link and match pada intinya adalah keterlibatan DUDI dalam semua aspek penyelenggaraan pendidikan vokasi. Kita masak bersama menu yang dibutuhkan industri," ujar Wikan.

Lebih lanjut, Wikan menjelaskan, huruf “i” pada skema 8+i ini, dapat bermacam-macam. Misalnya, beasiswa/ikatan dinas dari industri, atau super tax deduction yang merupakan motor luar biasa bagi vokasi.

Halaman
12
Penulis: m zaenal arifin
Editor: rival al manaf
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved