Breaking News:

Berita Sragen

Warga Sujud Syukur, Portal TKP Kecelakaan Kereta Vs Mobil Patroli di Siboto Kalijambe Dibuka

Sejumlah warga sujud syukur atas pembukaan portal besi palang kereta api di jalan Dukuh Siboto, Sragen.

Tribun Jateng/Mahfira Putri Maulani
Sejumlah warga Dukuh Siboto, Desa Kalimacan, Kecamatan Kalijambe ketika bersujud syukur dibukanya portal besi palang kereta api, Kamis (18/2/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Sejumlah warga sujud syukur atas pembukaan portal besi palang kereta api di jalan Dukuh Siboto, Desa Kalimacan, Kecamatan Kalijambe Sragen.

Pembukaan kembali ini sangat ditunggu-tunggu warga, pasalnya keg

Sejumlah warga Dukuh Siboto, Desa Kalimacan, Kecamatan Kalijambe ketika bersujud syukur dibukanya portal besi palang kereta api, Kamis (18/2/2021).
Sejumlah warga Dukuh Siboto, Desa Kalimacan, Kecamatan Kalijambe ketika bersujud syukur dibukanya portal besi palang kereta api, Kamis (18/2/2021). (Tribun Jateng/ Mahfira Putri Maulani)

iatan masyarakat banyak yang terhambat. Bahkan sejumlah pedagang tidak dapat berjualan karena jalan tersebut ditutup.

Dibukanya palang ini merupakan keputusan dari Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati. Yuni membuka jalan tersebut kembali meksipun tidak diizinkan dan tidak diperbolehkan oleh PT KAI.

Inawati (52), warga setempat, tak kuasa menahan haru ketika palang tersebut dibuka warga menggunakan las. Dirinya menangis histeris bahkan langsung melakukan sujud syukur.

"Alhamdulillah ya Allah, terimakasih ibu bupati," teriak Inawati sembari meneteskan air mata ketika petugas mulai membuka portal besi itu, Kamis (18/2/2021).

Ina mengaku penutupan portal sejak (14/12/2020) lalu sangat memberatkan masyarakat. Ia mengatakan bukan hanya pribadi Amun seluruh golongan masyarakat terdampak atas penutupan jalan ini.

Dirinya yang juga seorang guru MTSN 8 Sragen itu mengaku kasihan kepada anak-anak apabila harus berputar 2-3 kilometer ketika nanti kembali bersekolah.

Di Dukuh Siboto sendiri setidaknya ada tiga sekolah yakni MTSN 8 Sragen, SD Muhammadiyah hingga beberapa TK dan PAUD.

"Kasihan sekali anak-anak ketika nanti kembali bersekolah harus berputar 2-3 kilometer dulu. Bukan masalah pribadi tapi masyarakat seluruhnya terdampak," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Mahfira Putri Maulani
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved