Breaking News:

Kesehatan

Jangan Suka Tarik Kesimpulan Gangguan Kesehatan Sendiri, Ahli Saja Perlu Proses Buat Diagnosa

Ada kecenderungan tren self-diagnosis atau mendiagnosa dirinya sendiri lagi digandrungi banyak orang

TRIBUN JATENG
Probowatie Tjondronegoro Psikolog RS St Elisabeth Semarang 

Penulis: Akhtur Gumilang

TRIBUNJATENG.COM - Zaman sekarang ini ilmu sudah berkembang pesat. Apapun beragam informasi sekarang bisa mudah diakses sehingga orang yang ingin mengetahui tentang kondisi dirinya pasti akan dengan mudah mencari tahu. Bisa lewat membaca buku, mencari di internet, dan sejenisnya.

Dra Probowatie Tjondronegoro MSi, Psikolog RS St Elisabeth Semarang, mengatakan, ada kecenderungan tren self-diagnosis atau mendiagnosa dirinya sendiri lagi digandrungi banyak orang, terutama anak muda yang haus mencari tahu apapun. Namun kembali lagi bahwa buku atau bacaan apapun tergantung yang memegang atau membacanya. Kalau bukan ahlinya, penjelasan pada buku tersebut akan jadi berbeda.

Kini, banyak anak muda melakukan tren ini yakni tren self diagnosis. Mendiagnosa sendiri menurut hal-hal yang dibacanya. Mereka mencocokkan kesamaan antara buku atau sumber yang dibaca dengan kondisi yang sedang dialaminya. Padahal, dalam menegakan diagnosa perlu proses yang panjang. Dokter saja perlu dukungan laboratorium untuk menentukan diagnosa. Sementara psikolog untuk menegakkaan diagnosa pasiennya mengalami masalah mental seperti depresi, bipolar, kecemasan, ekstovert, introvert pun perlu melalui konseling dan wawancara yang tidak cukup hanya dilakukan sekali saja.

Hasil diagnosa ini berlaku seumur hidup. Jika hasilnya tidak sesuai, maka akan merugikan pasien tersebut sepanjang hidupnya. Maka, proses menegakkan diagnosa itu benar-benar harus dilalui dengan detail oleh ahlinya ataupun praktisi. Semisal banyak orang mencoba mendiagnosa dirinya sendiri, maka perilaku mereka akan menuruti apa yang dibacanya. Contohnya, ada salah satu orang yang mengaku bipolar karena diagnosanya sendiri, maka orang tersebut secara perlahan akan mengikuti ciri-ciri bipolar sesuai yang dibacanya dari berbagai sumber. Ini tentu salah kaprah.

Orang yang mengaku bipolar tersebut tentu jadi sering membenarkan apapun tingkah lakunya. Lalu, bisa juga orang tersebut jadi merasa inferior lantaran diagnosanya sendiri. Apabila sudah mencapai hal ini, penting bagi kita untuk menegakkan diagnosa lewat bantuan praktisi atau ahli. Hal itu dilakukan supaya kita tidak terus terbawa dan terlena akan stigma yang belum jelas kepastiannya. Padahal, bisa saja setelah dikonsultasikan ke ahlinya, stigma-stigma itu tidak benar. Jadi hanya sebatas dugaan.

Membaca buku atau sumber lainnya boleh-boleh saja, namun lebih baiknya perlu dikomunikasikan ke ahlinya. Kalau penyakit, bisa ke dokter. Sedangkan masalah kejiwaan, bisa ke psikolog. Penting diingat, para ahli atau praktisi punya riwayat pendidikan yang panjang. Mereka tidak hanya sekadar membaca lalu menentukan diagnosa. Ingat bahwa diagnosa itu berlaku seumur hidup dan menjadi milik kita. Sehingga, dalam menentukan diagnosa, para ahli maupun praktisi tentu mesti sangat berhati-hati.

Fenomena ini menjamur karena salah satunya dipengaruhi juga oleh maraknya test kepribadian atau psikologi secara online. Dengan waktu sangat singkat, layanan tes kepribadian itu dapat menunjukan hasil kepribadian seseorang. Padahal, dalam menentukan apapun, penting adanya diskusi. Selain melalui proses analisis yang sangat hati-hati, para ahli pun memerlukan adanya diskusi. Proses ini harus dilalui secara tatap mata atau bertemu langsung, tanpa embel-embel online maupun daring. Sebab, diagnosa ini menyangkut nasib fisik maupun psikis.

Mencari tahu tentang kondisi diri sendiri sah-sah saja. Tidak buruk juga karena menandakan bahwa kita peduli dan mawas akan diri sendiri. Namun yang menjadi salah kaprah adalah ketika kita sudah mencari tahu tentang kondisi diri kita sendiri, tetapi tanpa dilanjuti diskusi dengan para ahli. Untuk melihat analisis diri kita sendiri memang diperlukan adanya komunikasi lebih lanjut dengan para ahli, praktisi, ataupun sejenisnya. Hal ini dilakukan supaya kita mendapat kepastian tentang diri kita sendiri. Jangan terus dibiarkan dugaan-dugaan yang kita simpulkan sendiri lewat bacaaan. (gum)

Penulis: Akhtur Gumilang
Editor: moh anhar
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved