Breaking News
Selasa, 5 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Jateng

RS Minta Ruang Isolasi Berangsur Ditutup, Kasus Covid Turun? Ganjar Minta Jangan Terburu-buru

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meminta rumah sakit tak tergesa-gesa menutup pelayanan ruang isolasi.

Tayang:
Istimewa
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. 

Penulis: Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, menuturkan sejumlah rumah sakit rujukan penanganan Covid-19 meminta melakukan penutupan secara bertahap ruang isolasi pasien corona.

Hal itu dilakukan karena tingkat keterisian ruang isolasi di rumah sedikit rendah.

"Ada beberapa RS yang meminta penutupan, beberapa ruang isolasi.

Seperti Wongsonegoro di Semarang," jelasnya, Senin (22/2/2021).

Meskipun demikian, jika jumlah ruang isolasi yang tidak terpakai cukup banyak, ia meminta rumah sakit menyiapkan ruangan itu sebagai cadangan penambahan tempat tidur ICU.

"Kalau memang ada sisa, silakan dipakai yang lain.

Tapi saya minta tidak tergesa-gesa, saya khawatir ini gelombang pertama yang turunnya bagus, dan nanti kita harus berjaga-jaga, mudah-mudahan tidak, kalau muncul gelombang kedua," ujarnya.

Jangan sampai, lanjutnya, ketika gelombang kedua muncul, banyak rumah sakit yang tergopoh-gopoh menanganinya.

Apakah rendahnya keterisian tempat tidur bisa dijadikan indikator kasus covid turun?

Berdasarkan situs covid Jateng yang dikelola Dinas Kesehatan Pemprov Jateng mencatat Senin ini ada tambahan kasus aktif sebanyak 789.

Biasanya, pada hari-hari sebelumnya rata-rata kasus aktif mencapai 1.000.

Namun, secara kumulatif, ada sebanyak 7.235 kasus aktif di provinsi ini.

Meskipun demikian, Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang ditampilkan Kawal Covid19 per 15 Februari 2021, angka positivity rate di Jateng berada di angka 11,14 persen.

Positivity rate adalah rasio atau perbandingan jumlah kasus harian dengan jumlah pemeriksaan Covid-19 harian dan dikali 100.

Semakin banyak pemeriksaan Covid-19 yang dilakukan suatu daerah, maka positivity rate-nya akan semakin turun karena semakin banyak kasus yang ditemukan.

Terkait hal tersebut, Ganjar mengatakan akan terus menggenjot tracing dan testing di samping vaksin yang terus digulirkan.

"Ini yang kami kejar. Ada PPKM Mikro tracer (petugas pelacak) ditambah dari unsur TNI dan Polri (Babinsa dan Bhabinkamtibmas)," terangnya.

Petugas tracer tambahan ini untuk membantu personel kesehatan baim dari Puskesmas atau rumah sakit setempat.

Pada pelaksanaan PPKM Mikro, pemerintah memperbanyak tes atau pemeriksaan Covid-19 baik dengan PCR maupun rapid test antigen.

Ia menargetkan tracer bisa melacak 15-30 kontak erat pasien yang terkonfirmasi Covid-19.

"Selama ini kan kita cuma bisa 3 sampai 5 (untuk satu orang tracer). Nanti, targetnya satu tracer bisa melacak 30 orang, tapi kalau 15 sudah cukup bagus," imbuhnya.

Sementara, terkait keterisian ruang isolasi covid, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jateng, Yulianto Prabowo menuturkan terus menurun. Artinya, pasien covid yang dirawat sedikit.

"Tingkat keterisian untuk ICU 38,08 persen dan tempat tidur isolasi hanya 33,01 persen," terangnya.

Menurutnya, sejumlah rumah sakit mengusulkan menutup layanan isolasi Covid-19 di tempatnya masing-masing dan menjadikan ruangan-ruangan itu untuk perawatan non-Covid-19.

Yulianto menuturkan angka kasus aktif juga terus mengalami penurunan, dari 8.230 pada pekan sebelumnya, pekan ini kasus aktif 7.300.

Ia menambahkan selama dua pekan berturut-turut, tidak ada satu daerah dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang masuk kategori risiko tinggi atau zona merah Covid-19.

Dari 5 kabupaten/kota yang masuk zona merah pada 25-31 Januari yakni Kendal, Karanganyar, Cilacap, Blora dan Kebumen, pada dua pekan selanjutnya yakni 1-7 Februari dan 8-14 Februari, tidak ada daerah yang masuk zona merah.

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved