Breaking News:

Berita Pati

Peringati Hari Peduli Sampah Nasional, Pemuda Sukolilo Pati Gelar "Sampah Serapah"

Dua kelompok pemuda di Kecamatan Sukolilo, yakni Rangaswengi dan Sandal Petualang, menggelar rangkaian kegiatan.

Penulis: Mazka Hauzan Naufal

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Dua kelompok pemuda di Kecamatan Sukolilo, yakni Rangaswengi dan Sandal Petualang, menggelar rangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Peduli Sampah Nasional yang jatuh pada 21 Februari.

Rangkaian kegiatan bertajuk “Sampah Serapah” ini dimaksudkan untuk memberikan edukasi tentang bahaya pengelolaan sampah yang buruk. 

Sampah Serapah digelar di Dukuh Sanggrahan, Desa/Kecamatan Sukolilo.

Baca juga: Roni De Laserna Pakar Hipnosis asal Pati Luncurkan Buku Desendria

Baca juga: Video Pakar Hipnosis asal Pati Luncurkan Buku Desendria

Baca juga: Video SMK Diponegoro Juwana Pati Berikan 500 Paket Sembako untuk Korban Banjir

"Rangkaian acara dimulai 18 Februari dengan menyusuri kali dan memungut sampah. Kemudian 19 Februari ada kelas seni durable artwork, yakni pembuatan karya dari sampah yang didapatkan dari penyusuran kali," tutur Ketua Panitia Sampah Serapah, Bagussatya Nasyid Mahendra, Senin (22/2/2021).

Acara dilanjutkan makan bersama pada 20 Februar. Kemudian puncak acara pada 21 Februari diisi dengan diskusi, pameran karya seni durable artwork oleh MI Sultan Agung 02, dan seni pertunjukan.

Tak hanya itu, Sampah Serapah juga diisi dengan penggalangan dana untuk korban banjir di Pati.

Bagussatya menyebut, acara ini juga sebagai 'pepiling', pengingat, bahwa pada 2005 silam terjadi tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, yang memakan korban 157 jiwa dan menghilangkan dua kampung (Cilimus dan Pojok) dari peta.

Acara ini juga timbul dari kegelisahannya tentang prilaku masyarakat yang kurang menghargai alam. 

Menurutnya, masyarakat sering mengadakan aneka tradisi yang bertujuan mensyukuri alam yang dikaruniakan Tuhan. Namun ironisnya, dalam perilaku sehari-hari sebagian mereka masih merusak bumi dengan membuang sampah sembarangan. 

Berbagai bentuk ritual tradisi yang sudah berlangsung di Sukolilo, seperti hajatan/bancakan, sedekah bumi, Meron, Suro, dan sebagainya, merupakan simbol-simbol rasa syukur atas berkah yang diberikan Allah SWT lewat alam-Nya.

Namun, menurut Bagussatya, kesadaran diri warga Sukolilo dan sekitarnya belum bisa mencerminkan nilai luhur dari tradisi itu. Masyarakat Sukolilo melihat hal ini hanya sebuah hal yang biasa, tanpa bisa melihat nilai yang sebenarnya ingin disampaikan oleh leluhur.

Baca juga: Bupati Pati Haryanto: Jangan Sampai Pilkades Serentak 10 April 2021 Timbulkan Klaster Covid-19

“Terbukti dengan banyaknya debit sampah yang biasanya terihat menumpuk di kala musim penghujan. Seperti Banjir langganan yang sering terjadi di Desa Kasiyan, saluran air mampet di sungai Baturejo-Wotan, banjir reguler di Jalan Sunan Prawoto,” urai dia.
Lewat Sampah Serapah, lanjut dia, pihaknya mencoba mendalami kesadaran dan kepercayaan turun-temurun masyarakat Sukolilo terhadap alam. 

“Bagaimana seharusnya kita hidup berdampingan dengan alam lewat apa yang sudah kita lakukan selama ini. Wajah kita bukan lagi hanya hijaunya Gunung Kendeng, tapi sampah plastik di sungai dan banjir langganan setiap tahunnya,” tandas dia. (mzk)

Penulis: Mazka Hauzan Naufal
Editor: rival al manaf
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved