Breaking News:

Pendidikan

Puspernas Soroti Kurangnya Ketersediaan Bahan Bacaan terkait Literasi yang Masih Rendah

Selain kebiasaan atau minat baca, ketersediaan bahan bacaan pun turut menjadi masalah rendahnya literasi Indonesia.

Tribun Jateng/Muhammad Sholekan
PERPUS KOTA SEMARANG - Suasana di Perpustakaan Kota Semarang di Gedung Pandanaran, Kamis (3/9). Perpustakaan milik Pemerintah Kota Semarang itu punya 125 ribu koleksi buku dan 15 ribu buku digital. Pada masa pandemi Covid-19, perpustakaan tersebut tetap membuka layanan. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Persoalan literasi masih menjadi tantangan di Indonesia tidak saja di masa pandemi global Covid-19 saja. Selain kebiasaan atau minat baca, ketersediaan bahan bacaan pun turut menjadi masalah rendahnya literasi Indonesia.

Berdasar standar Unesco setiap orang idealnya minimal membaca 3 buku baru setiap tahun. Dengan perkiraan jumlah penduduk Indonesia 270 juta, maka membutuhkan 810 juta buku beredar di masyarakat setiap tahun. Namun total jumlah bahan bacaan nyatanya hanya mencapai 22, 3 juta eksemplar dengan rasio nasional 0,0098 atau tidak mencapai 1 persen.

Sementara Eropa bisa mencapai 15-20 buku per tahun, Amerika Utara bisa 25 buku setahun. Artinya, Indonesia mengalami ketertinggalan jauh. Data ini disampaikan Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando melalui rilis resmi Perpustakaan Nasional seperti dikutip Kompas.com, kemarin.

"Jadi jangan menghakimi anak-anak Indonesia di sisi hilir yang rendah budaya baca, tetapi ini dikarenakan tidak disiapkannya buku yang beredar di masyarakat," ungkap Syarif lebih lanjut.

Ia menyampaikan hal ini menjadi tugas banyak pihak, mulai dari penyelenggara negara, hingga penulis dan juga penerbit. "Penulis dan penerbit buku juga harus bisa menyesuaikan kebutuhan masyarakat di berbagai tempat yang tidak sama kebutuhannya,” ujarnya.

Kaperpusnas menyampaikan, kebiasaan membaca buku dapat mendorong orang berinovasi, sehingga penguatan literasi menjadi salah satu syarat penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Literasi, jelas Syarif, terbagi 4 tingkatan, yakni kemampuan mengumpulkan sumber-sumber bacaan, memahami yang tersirat dari yang tersurat dan mengemukan ide, teori, kreativitas dan inovasi baru.

“Nah yang keempat inilah puncaknya yakni mampu menciptakan barang dan jasa yang bermutu yang bisa dipakai dalam kompetisi global. Jadi literasi tidak lagi sekadar bisa membaca namun memproduksi,” tegasnya.

Syarif memaparkan data saat ini literasi Tiongkok berada jauh di atas Indonesia, bahkan mereka memimpin dunia dalam percaturan kompetisi global. Sementara penduduk Indonesia banyak menjadi konsumen dan rendah memproduksi karena dampak dari rendahnya tingkat literasi. Indonesia dengan 270 juta penduduk saat ini dan diprediksi 50 tahun ke depan penduduk Asia akan menjadi sebanyak 5 miliar, Eropa 800 juta, Amerika Utara 1-1,2 miliar.

"Ini artinya Benua Asia akan menjadi pusat baru kehidupan manusia, dan jantungnya adalah Indonesia yang bakal menjadi tema sentral literasi dalam menciptakan barang dan jasa bermutu," jelasnya.

“Karena pada akhirnya persaingan global dalam tataran ekonomi dunia adalah siapa yang bisa ciptakan produksi untuk konsumsi massal. Saat ini kita dipaksa hidup dengan teknologi yang bergerak sangat cepat,” tambah Bando.

Terkait hal itu, Perpusnas memberikan akses digital untuk semua mahasiswa di seluruh nusantara di era study from home (SFH) ini. Bando mengungkapkan, Perpusnas Indonesia saat ini menjadi perpustakaan terbaik ketiga di dunia pada top open access jurnal ilmiah dengan kurang lebih 4 miliar artikel. Selain mahasiswa, layanan tersebut juga diberikan kepada tenaga pendidik dan semua sekolah.

"Di 2021 ini kami menjadikan Perpusnas ini sebagai universitas zoom dengan berpelanggan 10.000 kuota orang setiap membuat acara dengan mengundang berbagai rektor, menteri, dan nara sumber lainnya," jelasnya.
Di sisi lain, Syarif juga mengungkapkan, tantangan utama Perpusnas saat ini adalah menyakinkan generasi milenial membutuhkan ilmu pengetahuan agar mampu menghasilkan barang dan jasa yang bermutu di masa mendatang.

"Generasi milenial tidak boleh menjadi generasi internetan yang hanya berselancar di gelombang, dengan penuh ketidakpastian dan pengetahuan yang sangat dangkal. Milenial harus banyak membaca," ajaknya. (*)

Penulis: -
Editor: moh anhar
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved