Breaking News:

Berita Semarang

Usai Melantik 17 Bupati/Wali Kota, Ganjar Disinggung Soal Kota Tegal: Boleh Dilawan Tapi 5 Tahunan

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo melantik 17 bupati/wali kota dan wakil secara daring dan luring, Jumat.

Istimewa
Gubernur Ganjar memberikan selamat kepada bupati dan wali kota yang baru saja dilantik. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo melantik 17 bupati/ wali kota dan wakil secara daring dan luring, Jumat (26/2/2021).

Usai prosesi pelantikan, Ganjar disinggung soal keharmonisan antara kepala daerah dan sang wakil.

Seperti diketahui, ketidakharmonisan hubungan kepala daerah dan wakil terjadi di Kota Tegal. Bahkan, keretakan hubungan keduanya dibawa ke kepolisian.

Gubernur Ganjar menegaskan wali kota/ bupati dengan wakilnya butuh komunikasi, butuh keterbukaan, butuh memahami konstitusi dan Undang Undang.

"Kalau mereka paham perannya, tidak akan serobot- serobotan. Antara kepala daerah dan wakilnya mesti tahu perannya. Namun, in the end (akhirny) keputusan tertingginya adalah kepala daerah," kata Ganjar di kompleks Kantor Pemerintah Provinsi Jateng.

Tidak hanya merujuk ke Pemerintah Kota Tegal, ia berharap untuk semua kepala daerah di kabupaten dan kota agar rukun dengan wakilnya.

Sesuai aturan, antara keduanya sudah diatur porsinya. Tidak bisa saling berkompetisi.

Jika ingin berkompetisi, Ganjar mempersilakannya dalam ajang kontestasi pemilihan umum. Tentunya hal tersebut dilakukan secara legal dan konstitusional.

"Maka kalau ada agenda kontestasi, lebih baik diselesaikan secara lima tahunan (pilkada). Dilawan saja, boleh, tapi lima tahunan. Jangan di tengah tahunan gitu. Nanti yang rugi rakyat," tegasnya.

Menurutnya, perselisihan antar pimpinan daerah tersebut dikhawatirkan berdampak pada pelayanan masyarakat.

Ia juga menyebut apa yang disampaikan dalam sambutan saat pelantikan bahwa pemimpin harus membutuhkan kebesaran jiwa menerima kritikan dan sabar menghadapi tantangan.

"Jadi mesti sabar. Mesti ono ngempete (ada menahan diri) juga. Jangan kemudian tiba-tiba semuanya hebat-hebatan. Atau kemudian yang nomor satu (wali kota/bupati) ki nggonku kabeh dipek dewe saksenenge (ini punyaku semua, milikku sendiri), nggak bisa, semua ada porsinya," tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, keretakan hubungan antara Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tegal terendus saat sang wakil tidak berangkat beberapa hari. Dia beralasan fasilitas kedinasan semisal sopir dan ajudan telah ditarik.

Tidak lama kemudian, wali kota melalui utusannya melaporkan wakil wali kota ke Polda Jawa Tengah dengan tuduhan pencemaran nama baik. (*)

Penulis: mamdukh adi priyanto
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved