Breaking News:

Berita Demak

Nyala Lampu Di Rumah Kodriyah Terangi Cita-citanya Jadi Sarjana Psikologi

Setelah dukuhnya ditinggalkan sebagian besar warganya pada 2006, Kodriyah (17) tidak lagi memiliki teman sebaya.

Tribun Jateng/ Yunan Setiawan
Kodriyah (17) sedang mengerjakan tugas sekolah di meja belajarnya saat dikunjungi Tribun Jateng di rumahnya, pertengahan Februari 2021. Warga Dukuh Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, itu bergantung pada aliran listrik di rumahnya untuk belajar dan melakukan aktivitas sehari-hari.(TRIBUNJATENG/YUNANSETIAWAN). 

"Kalau biasanya belajar cuma butuh lampu, sekarang harus sering charge hape dan laptop," katanya saat dikunjungi Tribun Jateng Senin, (15/2/2021).

Kata anak ketiga dari empat bersaudara ini, belajar daring yang ia ikuti selama ini tidak selalu berjalan mulus. 

"Kadang ada kendalanya. Kalau ada angin (kencang) seperti ini kadang sinyal hilang. Kalau jaringannya ada,  (tapi) kuota juga (habis).  Terpaksa bolos kalau kuota dan (jaringan) tidak ada. Guru mungkin memaklumi karena mengetahui kondisi saya yang seperti ini," ceritanya. 

Kendati kondisi Dukuh Rejosari Senik menyisakan satu keluarga, listrik tetap mengalir di rumah Kodriyah. 

Sehingga dengan adanya listrik di rumahnya,  orangtuanya bisa menanak nasi dan menikmati rehat dengan menonton televisi setelah seharian menjala ikan.

Adanya cahaya itu, selain membuat mereka tidak hidup dalam remang-remang kegelapan, listrik juga menerangi semangat belajar Kodriyah.

Setelah lulus nanti ia ingin menjadi sarjana psikologi di kampus negeri. 

Mungkin bagi sebagian orang, impian menjadi sarjana adalah hal yang sangat biasa, tetapi bagi anak seorang nelayan dengan penghasilan tak menentu seperti Kodriyah, mengenyam pendidikan di jenjang perguruan tinggi adalah hal mewah dan mahal. 

Untuk itu, Kodriyah mengaku tak henti terus belajar agar terus mencatatkan prestasi di sekolahnya. Prestasi gemilang sudah ditorehkan, yakni langganan menduduki ranking tiga besar waktu di sekolah tingkat pertama. 

"Saya kelas VII itu peringat 3, kelas VIII itu peringat 2, Kelas IX itu peringkat 1," kata alumnus SMP N 1 Sayung.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Yunan Setiawan
Editor: rival al manaf
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved