Breaking News:

Berita Demak

Nyala Lampu Di Rumah Kodriyah Terangi Cita-citanya Jadi Sarjana Psikologi

Setelah dukuhnya ditinggalkan sebagian besar warganya pada 2006, Kodriyah (17) tidak lagi memiliki teman sebaya.

Tribun Jateng/ Yunan Setiawan
Kodriyah (17) sedang mengerjakan tugas sekolah di meja belajarnya saat dikunjungi Tribun Jateng di rumahnya, pertengahan Februari 2021. Warga Dukuh Rejosari Senik, Desa Bedono, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, itu bergantung pada aliran listrik di rumahnya untuk belajar dan melakukan aktivitas sehari-hari.(TRIBUNJATENG/YUNANSETIAWAN). 

Sayang, di tingkat SMA siswi yang duduk di bangku Kelas XI MIPA I SMAN 1 Sayung tidak tahu betul peringkat yang diduduki. Sistem ranking sudah tidak ada. Kendati demikian, ia tetap belajar agar nilai mata pelajarannya jauh di atas rata-rata. 

Harapan Hidup Lebih Baik

Pasijah mengaku beruntung masih ada listrik mengalir di rumahnya. Ia sebelumnya tidak menyangka bakal ada orang yang mau susah payah ke rumahnya untuk memperbaiki jaringan listrik jika ada gangguan. 

"Kalau saluran listrik terputus dirawat. kalau ada kabel putus dirawat. Kalau pal (tiang listrik ambruk diganti. Alhamdulillah. PLNnya mesake kula (kasihan padansaya). Ben ojo petengan (biar tidak gelap-gelapan). Ben bocah-bocah sing sekolah sing sekolah bisa ngecharge hape (Biar anak-anak yang sekilah bisa mencharge handphone)," kata Pasijah kepada Tribun Jateng. 

Terpisah, Manager Unit Layanan Pelanggan Demak Anggakara menjelaskan, Pasijah merupakan pelanggan lama PLN. Saat terjadi abrasi di dukuh tersebut dan seluruh warga memutuskan pindah dan hanya tersisa satu rumah milik Pasijah. PLN tidak memutuskan secara sepihak aliran listrik ke rumah Pasijah.

"PLN tetap melayani kebutuhan listrik ke rumah Pasijah sebagai bentuk pelayanan kepada pelanggan," jawabnya melalui pesan tertulis kepada Tribun Jateng beberapa waktu lalu.

Anggakara menegaskan, pihaknya tetap melayani semaksimal mungkin jika rumah Pasijah mengalami gangguan listrik, yakni dengan mendatangi rumah Pasijah menggunakan alat transportasi perahu.

Sementara itu, Pasijah mengatakan kebutuhan listrik di rumahnya diutamakan untuk anaknya agar bisa belajar dengan nyaman. Karena baik siang maupun malam, kata dia, kalau lampu di dalam rumah tidak menyala ruang akan gelap gulita. Sehingga anaknya tidak bisa belajar. 

Dia berharap dengan rajin belajar, anak-anaknya bisa bernasib lebih mujur ketimbang orangtuanya. Tidak tinggal di perkampungan yang sunyi, tidak dikelilingi air dan angin laut, dan tidak terasing dari warga. 

Bertolak dari harapan itu, setiap aliran listrik terputus, ia mengaku khawatir tidak ada aliran listrik lagi di rumahnya. Pertanda anaknya kesulitan aktivitas belajar. Ketika kondisi demikian, Pasijah bergegas menghubungi petugas PLN yang tinggal di dukuh seberang. 

"Ndilalah. Alhamdulillah. PLN kalau diundang kemari.  Kemari. Alhamdulillah tenan (benar) kalau PLN dipanggil cepet teko (cepat datang)," tandasnya.

Setiap perahu yang digunakan petugas PLN tiba di rumahnya, Pasijah mengaku lega. Ia bisa merasa tenang listrik kembali bisa menyala dan cita-cita anaknya menjadi psikolog tidak terhalang listrik mati.(yun).

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved