Breaking News:

3 Demonstan Lagi Kritis, Pasukan Keamanan Myanmar Terus Gunakan Kekerasan Hadapi Unjuk Rasa

Sekitar 20 orang terluka dalam tindakan keras pagi hari oleh polisi dan tentara di Kale. Tiga terkena peluru tajam dan sedang dalam kondisi kritis

Editor: Vito
STR / AFP
Para pengunjuk rasa bereaksi dengan melepaskan alat pemadam kebakaran, ketika gas air mata ditembakkan oleh polisi dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Selasa (2/3). Tiga demonstran anti-kudeta militer mengalami kritis akibat terkena tembakan pasukan keamanan Myanmar dalam unjuk rasa di wilayah Kale, dan sekitar 20 orang terluka. 

NAY PYI TAW - Tiga demonstran anti-kudeta militer mengalami kritis akibat terkena tembakan pasukan keamanan Myanmar dalam unjuk rasa di wilayah Kale, Selasa (2/3).

Pasukan keamanan Myanmar kembali menggunakan kekerasan untuk meredam aksi demonstrasi yang terus terjadi di negara itu.

"Sekitar 20 orang terluka dalam tindakan keras pagi hari oleh polisi dan tentara di Kale. Tiga terkena peluru tajam dan sedang dalam kondisi kritis," kata seorang petugas medis yang tidak mau disebutkan namanya, seperti dikutip dari AFP.

Menurut dia, polisi awalnya menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan pedemo. "Satu orang dipukul di pahanya, dan dia sekarang sedang dioperasi. Satu tertembak di perut dan dia membutuhkan transfusi darah. Satu lagi tertembak di dada. Kondisinya memprihatinkan," ujarnya, kepada AFP.

Ratusan demonstran juga berkumpul pada Selasa (2/3) di daerah Hledan, Yangon, di mana sehari sebelumnya polisi telah menembakkan gas air mata. Mereka membentuk barikade guna menghambat setiap upaya menyerang dan melakukan penangkapan.

Sepanjang aksi, para demonstran meneriakkan slogan-slogan dan menyanyikan lagu-lagu di garis polisi. Gas air mata digunakan lagi pada hari Selasa.

Para demonstran, terutama anak muda, melarikan diri dalam kepanikan saat gas air mata ditembakkan. Tetapi, mereka segera kembali ke barikade.

Para demonstran juga mengambil bendera dan spanduk, berkumpul dan berjalan melalui jalan-jalan di Dawei, sebuah kota kecil di Tenggara Myanmar, yang telah menjadi tempat aksi demonstrasi besar terjadi hampir setiap hari untuk menentang kudeta.

Beberapa dari mereka juga membawa perisai logam, sebagai antisipasi terhadap kemungkinan penggunaan gas air mata dan peluru karet oleh polisi.

Meski korban berjatuhan, pedemo tak gentar. Unjuk rasa tetap digelar di seluruh negeri untuk melawan kudeta. Kemarin juga diadakan pemakaman sejumlah korban tewas.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved