Berita Semarang
Begini Kondisi Monumen Banjir Bandang Semarang, Tragedi Menewaskan 194 Orang Lebih
Monumen Banjir Bandang Semarang menjadi bukti bisu dari deretan peristiwa kelam akibat banjir di Kota Semarang.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Monumen Banjir Bandang Semarang menjadi bukti bisu dari deretan peristiwa kelam akibat banjir di Kota Semarang.
Monumen itu mencatat sejarah pahit yang kini lamat-lamat dilupakan.
Hal ini tampak dari bentuk fisik monumen yang sudah tak terawat lagi.
Baca juga: Foto Tragedi Banjir Bandang Semarang 25 Januari 1990, 194 Tewas: Banjir 2021 Tidak Ada Apa-apanya
Baca juga: Aksi Dion Bawa Kabur Uang Rp 190 Juta Milik Perusahaan Roti di Sragen: Modus Orderan Fiktif
Baca juga: Wajah Wahyudin Babak Belur Dihajar Massa Setelah Tepergok Mencuri 5 Burung Dara di Pekalongan
Baca juga: Batal! Laga Timnas U-23 Indonesia Vs Tira Persikabo: Alasan Teknis
Monumen Banjir Bandang Semarang bentuknya cukup sederhana.
Berupa grafik deretan garis-garis merah dengan angka yang mengartikan tinggi banjir dan tahun kejadian.
Lokasi monumen berada sisi timur pintu air di Bendung Simongan atau warga lokal menyebutnya sebagai bendungan Pleret yang menjadi pembatas antara Kaligarang dengan Kali Semarang.
Kondisi saat ini monumen itu telah pudar persis dengan memudarnya ingatan warga Kota Semarang terkait sejarah kelam kotanya.
Koordinator Pintu Air Bendung Simongan, Bayu Wanapati menuturkan, angka yang masih terlihat hanya dua kejadian banjir yaitu "10.1.1963" dan "28.3.1922".
"Itu saja yang masih terlihat.
Angka lainya sudah hilang," paparnya kepada Tribunjateng.com, Rabu (3/3/2021).
Dia mengatakan, tak tahu pasti kapan penanda monumen banjir bandang Kota Semarang dibuat.
Namun dia memahami betul arti setiap angka di monumen tersebut lantaran dia hafal sejarah banjir bandang di Kota Semarang.
Garis paling bawah "25.12.06 + 890"
atasnya berturut-turut "22.1.1976.SP+925"
"30.1.1993.SP+930" 28.3.1922.SP+930" "10.1.1963.SP+940" "25.1.1990.SP+945"
Artinya banjir terjadi pada 28 Maret 1922, 10 Januari 1963,22 Januari 1976,25 Januari 1990,dan 25 Desember 2006.
Dari monumen tersebut tercatat banjir terbesar terjadi pada 25 Januari 1990.
Kaligarang meluap ketingian 945 sentimeter dari dasar sungai.
"Banjir itu menjadi tragedi yang menjadi salah satu masa kelam di Kota Lunpia lantaran ratusan orang meninggal dalam sekejap," bebernya.
Dia berharap, andaikan monumen itu hilang paling tidak sejarah banjir bandang tak dilupakan.
Baginya yang juga bagian dari penyintas banjir bandang terbesar di Kota Semarang kejadian itu menjadi pembelajaran bersama terkait pentingnya menjaga alam dan mitigasi bencana.
"Baik warga asli Kota Semarang maupun siapa saja yang menetap di Kota Semarang seharusnya tahu terkait sejarah banjir bandang ini dan menjaga Kota Semarang secara bersama-sama," katanya.
Kendati demikian, dia menilai, tragedi banjir bandang Semarang 1990 mustahil akan kembali terjadi.
Menurutnya, kawasan Kota Semarang lebih tertata.
Daerah atas sudah dibangun waduk Jatibarang yang tentunya mengurangi debit air yang mengalir ke sungai di Semarang seperti Kaligarang dan Kali Semarang.
Sebelum dibangun waduk air yang masuk ke Bendung Simongan tercatat 1.000 liter perdetik.
Kini lebih rendah dengan jumlah maksimal 750 liter perdetik.
"Dalam banjir juga dikenal siklus 15 tahunan.
Hal itu pasti ada namun tak akan separah dahulu," katanya.
Dia mengatakan, lebih cenderung percaya dengan momen banjir 2 tahunan.
Pengamatan itu dilakukan sejak 2016.
Secara berkala dalam jeda 2 tahunan itu banjir seringkali melanda Kota Semarang, termasuk di tahun 2021.
"Saya mengamati seperti itu.
Ada titik elevasi ketinggian air yang persis terjadi di periodik waktu tersebut," tuturnya.
(Iwn)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/koordinator-pintu-air-bendung-simongan-bayu-wanapati-menunjukan-monumen-banjir-bandang-semarang.jpg)