Selasa, 19 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Semarang

Begini Kondisi Monumen Banjir Bandang Semarang, Tragedi Menewaskan 194 Orang Lebih

Monumen Banjir Bandang Semarang menjadi bukti bisu dari deretan peristiwa kelam akibat banjir di Kota Semarang. 

Tayang:
Penulis: iwan Arifianto | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG/IWAN ARIFIANTO
Koordinator Pintu Air Bendung Simongan, Bayu Wanapati menunjukan Monumen Banjir Bandang Semarang yang menjadi bukti bisu dari deretan peristiwa kelam akibat banjir di Kota Semarang yang kini sudah kusam, Rabu (3/3/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Monumen Banjir Bandang Semarang menjadi bukti bisu dari deretan peristiwa kelam akibat banjir di Kota Semarang

Monumen  itu mencatat  sejarah pahit yang  kini lamat-lamat dilupakan. 

Hal ini tampak  dari bentuk fisik monumen  yang sudah tak terawat lagi. 

Foto dokumentasi yang merekam kondisi paska banjir bandang Semarang 25 Januari 1990 yang menewaskan ratusan jiwa dan meluluhlantakan kawasan pemukiman di Kecamatan Semarang Barat dan Semarang Selatan.
Foto dokumentasi yang merekam kondisi paska banjir bandang Semarang 25 Januari 1990 yang menewaskan ratusan jiwa dan meluluhlantakan kawasan pemukiman di Kecamatan Semarang Barat dan Semarang Selatan. (TRIBUNJATENG/IWAN ARIFIANTO/repro)

Baca juga: Foto Tragedi Banjir Bandang Semarang 25 Januari 1990, 194 Tewas: Banjir 2021 Tidak Ada Apa-apanya

Baca juga: Aksi Dion Bawa Kabur Uang Rp 190 Juta Milik Perusahaan Roti di Sragen: Modus Orderan Fiktif

Baca juga: Wajah Wahyudin Babak Belur Dihajar Massa Setelah Tepergok Mencuri 5 Burung Dara di Pekalongan

Baca juga: Batal! Laga Timnas U-23 Indonesia Vs Tira Persikabo: Alasan Teknis

Monumen Banjir Bandang Semarang  bentuknya cukup sederhana. 

Berupa grafik deretan garis-garis merah dengan angka yang mengartikan tinggi banjir dan tahun kejadian. 

Lokasi  monumen  berada sisi timur pintu air di Bendung Simongan atau warga lokal menyebutnya sebagai bendungan Pleret yang menjadi pembatas antara Kaligarang dengan Kali Semarang

Kondisi saat ini monumen itu telah pudar persis dengan memudarnya ingatan warga Kota Semarang terkait sejarah kelam kotanya. 

Koordinator Pintu Air Bendung Simongan, Bayu Wanapati menuturkan, angka yang masih terlihat hanya dua kejadian banjir yaitu "10.1.1963" dan "28.3.1922". 

"Itu saja yang masih terlihat.

Angka lainya sudah hilang," paparnya kepada Tribunjateng.com, Rabu (3/3/2021).

Foto dokumentasi yang merekam kondisi paska banjir bandang Semarang 25 Januari 1990 yang menewaskan ratusan jiwa dan meluluhlantakan kawasan pemukiman di Kecamatan Semarang Barat dan Semarang Selatan.
Foto dokumentasi yang merekam kondisi paska banjir bandang Semarang 25 Januari 1990 yang menewaskan ratusan jiwa dan meluluhlantakan kawasan pemukiman di Kecamatan Semarang Barat dan Semarang Selatan. (TRIBUNJATENG/IWAN ARIFIANTO/Repro)

Dia mengatakan, tak tahu pasti kapan penanda monumen banjir bandang Kota Semarang dibuat. 

Namun dia memahami betul arti setiap angka di monumen tersebut lantaran dia hafal sejarah banjir bandang di Kota Semarang.

Garis paling bawah "25.12.06 + 890" 
atasnya berturut-turut "22.1.1976.SP+925" 
"30.1.1993.SP+930" 28.3.1922.SP+930" "10.1.1963.SP+940" "25.1.1990.SP+945"

Artinya banjir terjadi pada 28 Maret 1922, 10 Januari 1963,22 Januari 1976,25 Januari 1990,dan 25 Desember 2006. 

Dari monumen tersebut tercatat banjir terbesar terjadi pada 25 Januari 1990. 

Kaligarang meluap ketingian 945 sentimeter dari dasar sungai. 

"Banjir itu menjadi tragedi yang menjadi salah satu masa kelam di Kota Lunpia lantaran ratusan orang meninggal dalam sekejap," bebernya.

Dia berharap, andaikan monumen itu hilang paling tidak sejarah banjir bandang tak dilupakan. 

Baginya yang juga bagian dari penyintas banjir bandang terbesar di Kota Semarang kejadian itu menjadi pembelajaran bersama terkait pentingnya menjaga alam dan mitigasi bencana. 

"Baik warga asli Kota Semarang maupun siapa saja yang menetap di Kota Semarang seharusnya tahu terkait sejarah banjir bandang ini dan menjaga Kota Semarang secara bersama-sama," katanya.

Kendati demikian, dia menilai, tragedi banjir bandang Semarang 1990 mustahil akan kembali terjadi. 

Menurutnya, kawasan Kota Semarang  lebih tertata. 

Daerah  atas sudah dibangun waduk Jatibarang yang tentunya mengurangi debit air yang mengalir ke sungai di Semarang seperti Kaligarang dan Kali Semarang

Sebelum dibangun waduk air yang masuk ke Bendung Simongan tercatat 1.000 liter perdetik. 

Kini lebih rendah dengan jumlah maksimal 750 liter perdetik. 

"Dalam banjir juga dikenal siklus 15 tahunan. 

Hal itu pasti ada namun tak akan separah dahulu," katanya. 

Dia mengatakan, lebih cenderung percaya dengan momen banjir 2 tahunan. 

Pengamatan itu dilakukan sejak 2016.

Secara berkala dalam jeda 2 tahunan itu banjir seringkali melanda Kota Semarang, termasuk di tahun 2021.

"Saya mengamati seperti itu. 

Ada titik elevasi ketinggian air yang persis terjadi di periodik waktu tersebut," tuturnya.

 (Iwn)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved