Breaking News:

Berita Semarang

Paradigma Penanganan Banjir Harus Diubah, Bukan Mengalirkan tapi Meresapkan Air

Banjir yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk Kota Semarang disebabkan oleh beberapa faktor.

Tribun Jateng/Eka Yulianti Fajlin
Tangkapan layar webinar Ahli Peneliti Utama BPPTPDAS, Prof Irfan Pramono. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Banjir yang terjadi di sejumlah daerah, termasuk Kota Semarang disebabkan oleh beberapa faktor, antara hujan dengan intensitas tinggi, daerah resapan berkurang, penurunan muka tanah, sistem drainase tidak memadai.

Hal itu disampaikan oleh Ahli Peneliti Utama Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Pengolahan Daerah Aliran Sungai (BPPTPDAS), Prof Irfan Pramono, dalam webinar Menguak Tabir Banjir Semarang, Rabu (3/3/2021).

Menurut dia, banjir yang terjadi di Kota Semarang pada 6 dan 23 Februari ini satu diantaranya karena terjadi perubahan iklim.
Curah hujan yang tinggi. Pada 6 Februari, beberapa daerah di Semarang memiliki curah hujan lebih dari 150.

Kemudian, tutupan lahan DAS Garang semakin besar. Di sisi lain, adanya penurunan tanah berkisar 1-20 sentimeter per tahun.

"Itu saling mendukung terjadi banjir. Hulu penutupan vegetasi berkurang, daerah hilir muka tanah makin turun, lama-lama di bawah permukaan laut. Air yang jatuh tidak bisa mengalir lagi ke laut," ujarnya.

Dia menjelaskan, DAS Garang terdiri dari tiga aliran yakni Kreo, Kripik, dan Garang hulu. Aliran itu melibatkan Kota Semarang, Kabupaten Semarang, dan Kabupaten Kendal. Jika tidak dikelola dengam baik, tentu akan menyebabkan banjir. Sedangkan, Kota Semarang bergantung pada konservasi air di Kabupaten Semarang dan Kendal.

"Sebaliknya, Kabupaten Semarang maupun Kendal mungkin alokasi konservasi air bukan prioritas karena yang menikmati Kota Semarang," imbuhnya.

Maka, lanjut Irfan, penanggulangan banjir di DAS Garang harus diubah paradigmanya. Selama ini, penanggulangan banjir dilakukan dengan mengalirkan air. Ini harus diubah, bukan lagi mengalirkan melainkan harus meresapkan air.

Dia menyebutkan, ada beberapa upaya peresapan air. Di lahan hutan dan kebun, perlu pembuatan jebakan air atau rorak. Sedangkan di lahan pertanian perlu dibuat embung.

Perumahan harus bisa meresapkan air dengan membuat sumur resapan di masing-masing rumah dan resapan komunal di kompleks perumahan.

"Sehingga, semua air hujan di perumahan masuk ke dalam tanah. Perhitungan kami contoh Jakarta bisa mengurangi banjir di sekitar 20 persen," katanya.

Dia memaparkan, upaya meresapkan air ke dalam tanah juga tidak hanya untuk mengurangi banjir. Upaya ini bisa meningkatkan persediaan air tanah, mengurangi penurunan muka tanah, dan menguramgi tingkat intrusi air laut. 
Namun, upaya memasukan air dalam tanah harus memperhatikan beberapa daerah yang rawan longsor dan daerah yang tinggi muka air tanah kurang dari 3 meter. (*)

Penulis: Eka Yulianti Fajlin
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved