Breaking News:

Berita Karanganyar

Harga Gabah di Karanganyar Turun, Ini Yang Dilakukan Dispertan PP

Dispertan PP Kabupaten Karanganyar mendapatkan laporan turunnya harga gabah dari para petani. 

Istimewa
Pegawai Dispertan PP Karanganyar saat mengecek kondisi gabah milik petani di Popongan Kecamatan/Kabupaten Karanganyar, Senin (8/3/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (Dispertan PP) Kabupaten Karanganyar mendapatkan laporan turunnya harga gabah dari para petani. 

Berdasarkan Permendag Nomor 24 Tahun 2020 tentang penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk gabah dan beras, HPP Gabah Kering Panen (GKP) Rp 4.200 dengan kadar air maksimal 25 persen. Sedangkan HPP Gabah Kering Giling (GKG)  Rp 5.250 dengan kadar air maksimal 14 persen. 

"Akhir Februari 2021, harga (GKP) masih sesuai HPP, Rp 4.200. Tapi pada pekan lalu, laporan dari petani, harga di bawah HPP. Kisaran Rp 3.800 sampai Rp 4.000. Itu baru di wilayah Kecamatan Kerjo, Mojogedang dan Karanganyar Kota," kata Kasi Distribusi dan Cadangan Pangan Dispertan PP, Budi Sutrisno saat dihubungi Tribunjateng.com, Senin (8/3/2021). 

Dia menjelaskan, laporan turunnya harga gabah baru didapati dari tiga kecamatan yang berada di wilayah Kabupaten Karanganyar. Sedangkan wilayah lain yang notabenenya menjadi sentra pertanian seperti Kebakkramat dan Jaten diperkirakan masuk musim panen pada Maret hingga April 2021. 

Budi menjelaskan, turunnya harga jual gabah tidak hanya terjadi di wilayah Karanganyar saja tapi juga kabupaten lain. Menurutnya ada beberapa faktor yang mempengaruhi turunnya harga jual gabah baik itu faktor hukum ekonomi dan cuaca. 

"Pertama itu hukum ekonomi, ketika barang melimpah harga turun. Juga kadar air tinggi karena musim penghujan. Sehingga ketika pembeli membeli kondisi basah (gabah), akan memperhitungkan biaya untuk pengeringan," ucapnya. 

Dinas terkait sedang berkoordinasi dengan Bulog untuk mengupayakan supaya gabah dari petani dapat diserap saat harga jualnya turun. Kendati demikian, tentu Bulog memiliki standarisasi tersendiri untuk menyerap gabah dari para petani.

Di sisi lain, apabila gabah dari petani tidak sesuai dengan standar dari Bulog, tentu akan ada penyesuaian harga.

"Kita sedang koordinasi, kita petakan nanti kira-kira bisa diserap apa tidak. Karena Bulog ketika mau menyerap gabah dari petani ada standarnya tersendiri," ungkap Budi. 

Dia berharap petani memanen sendiri lahan persawahan untuk kemudian dijemur dan disimpan. Kemudian menjual gabah tersebut saat harganya bagus. 

"Itu harapan kami. Tapi ada kendala ,petani banyak yang tidak punya lantai jemur. Kedua petani butuh biaya untuk musim tanam selanjutnya," pungkasnya. (*)

Penulis: Agus Iswadi
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved