Berita Wonosobo
Tukiyo Petani Jahe Merah Wonosobo Semringah, Mendulang Rupiah di Tengah Pandemi Corona
Sudah sekitar setahun ini, Tukiyo dan sejumlah tetangganya di desa menanam bibit Jahe Merah.
Penulis: khoirul muzaki | Editor: galih permadi
TRIBUNJATENG.COM, WONOSOBO - Di tengah rimbunnya perkebunan salak Desa Kalimendong,Kecamatan Leksono Kabupaten Wonosobo, sebidang lahan terlihat berbeda.
Bukan tanaman salak atau holtikultura yang memenuhi lahan itu, melainkan tanaman jahe merah yang menghampar.
Menariknya, meski ditanam di ladang, tanaman obat itu tidak berakar di lahan.
Tanaman itu tumbuh di ribuan polybag dengan media tanam tersendiri.
Tukiyo mengambil beberapa polybag yang tanamannya sudah berumur.
Ia mencabuti tanaman itu hingga rimpang yang terpendam tampak.
Rimpang dan batang tanaman dipisah untuk ditukar rupiah.
“Ini berawal dari menanam di emperan rumah, "katanya, Selasa (9/3/2021)
Sudah sekitar setahun ini, Tukiyo dan sejumlah tetangganya di desa menanam bibit Jahe Merah.
Mulanya, Tukiyo hanya menanamnya di pekarangan rumah.
Cara itu pun sudah umum dilakukan warga lain, khususnya di desanya. Tetapi ia merawatnya lebih serius. Tukiyo memerhatikan betul media tanam di polybag, termasuk untuk komposisi tanah, kompos, maupun sekam.
Ia juga memberikan perawatan maksimal, termasuk dengan pemupukan rutin untuk tanamannya. Wajar, tanamannya bisa tumbuh maksimal sesuai harapan.
Dalam waktu enam sampai delapan bulan, dari satu rimpang lahir banyak tunas hingga rumpun tanaman di polybag itu merimbun.
Tukiyo mengaku, ide menanam jahe berawal dari keinginan untuk memanfaatkan lahan sempit di sekitar rumah.
Dengan cara itu, lahan pekarangan yang sempit pun bisa menghasilkan uang.
“Menanam jahe ya gampang ya sulit, yang penting penanganan sejak awal diperhatikan, "katanya
Di masa pandemi, saat banyak sektor usaha terpuruk, termasuk usaha pertanian, permintaan jahe justru meningkat.
Ini tak ayal menjadi berkah tersendiri bagi petani seperti Tukiyo, juga pedagang seperti En Raharjo.
Raharjo mengakui, pandemi tidak memengaruhi usaha budidaya tanaman obat itu.
Sebaliknya, pihaknya justru kewalahan memenuhi permintaan jahe yang tinggi di masa pandemi.
Di tingkat eceran, kata dia, harga jahe merah bahkan mencapai sekitar Rp 75 ribu.
“Di era pandemi, justru peminat jahe merah sangat tinggi,”katanya
Kebutuhan jahe yang tinggi di masa pandemi, menurut dia, karena masyarakat mempercayai komoditas itu berkhasiat untuk kesehatan, terutama untuk menjaga imunitas tubuh.
Sementara imunitas sebagai sistem alami dalam tubuh untuk melawan virus dari luar, termasuk Covid 19.
Di musim penghujan ini, kata dia, permintaan bibit jahe pun meningkat.
Musim hujan adalah saat paling tepat untuk menanam bagi petani karena kebutuhan air tercukupi.
Pelanggannya ternyata bukan hanya dari wilayah setempat, namun juga banyak dari luar kota.
“80 persen konsumen dari luar kota,” katanya.(*)
TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE :