Breaking News:

Berita Semarang

Departemen Pertanian FPP Undip Siapkan Lulusan Masuk Digital Farm

Prodi di Departemen Pertanian FPP Undip mulai bekali mahasiswanya dengan pengetahuan digital farming.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: sujarwo
Istimewa
Kampus Undip Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Program studi (Prodi) yang ada di Departemen Pertanian Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang mulai membekali mahasiswanya dengan pengetahuan mengenai digital farming yang menggunakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dalam melakukan kegiatannya.

Langkah tersebut juga didukung program pengiriman tenaga pengajar dan mahasiswa ke kampus-kampus di negara yang pertaniannya maju di antaranya Jepang, China dan Korea Selatan.

"Selain mengirim ke beberapa negara yang maju dalam pertaniannya, juga dilakukan kuliah umum oleh para praktisi pertanian modern yang sudah berhasil, untuk mendekatkan pemahaman para mahasiswa ke dunia kerja," kata Ketua Departemen Pertanian FPP Undip, Didik Wisnu Widjajanto, Rabu (10/3/2021).

Menurut Didik, pengetahuan tentang pertanian digital akan menjadi dasar bagi berbagai konsepsi penyediaan pangan hayati di masa depan. Dia meyakini berbagai konsep seperti smart farming, urban farming maupun precision farming semuanya berkait dengan ketrampilan digital.

"Karena belum ada mata kuliah yang spesifik, transfer pengetahuannya melalui kegiatan seminar, kuliah umum, pemagangan maupun belajar di kampus-kampus luar," ujarnya.

Ia menuturkan, beberapa dosen juga sudah memasukan pemahaman tersebut melalui mata kuliah yang diampu. Karena memasukan mata kuliah baru tidak semudah yang dibayangkan, meski secara riil ada kebutuhan.

"Kalau menjadi mata kuliah agak rumit karena harus ada peninjauan kurikulum, sementara kurikulum sering berubah," tambahnya.

Prinsip yang dipegang sementara ini adalah mahasiswa tahu gambaran kondisi yang harus dihadapi di masa mendatang. Karena itu mendekatkan dengan industri, dan belajar di mapus yang memiliki pertanian modern menjadi pilihan. Yang penting, kata Didik, setelah lulus mahasiswa tidak kaget melihat kenyataan yang dihadapi.

Mengenai benchmark untuk program digital farming ke kampus-kampus di Asia Timur, selain karena ketersediaan jaringan kerja sama, juga karena pertimbangan iklim dan budaya pangannya lebih dekat yaitu masih sama-sama mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok, sementara sayur dan buah-buahannya juga banyak yang sama.

"Meski negara Eropa memiliki pertanian yang lebih maju, tapi faktor iklim yang sangat berbeda menjadi salah satu kendala penerapannya dalam praktek," jelasnya.

Didik menegaskan, secara umum digital farming terbagi menjadi dua kegiatan pokok yaitu on farm yang terkait dengan budidaya mulai dari penyiapan, penanaman, pengelolaan dan panen serta off farm yang meliputi kegiatan non-budidaya atau hasil pasca panennya termasuk pengemasan, distribusi dan pemasarannya.

"Dalam konteks sekarang, off farm sudah terlebih dulu memakai sarana digital, sehingga digitalisasi on farm adalah sebuah keniscayaan," imbuhnya.

Departemen Pertanian FPP Undip saat ini mengelola 3 program studi sarjana dan satu program magister. Prodi sarjana meliputi Prodi Teknologi Pangan, Prodi Agribisnis dan Prodi Agroteknologi. Untuk jenjang S2 ada Magister Agribisnis. Adapun fokus kajiannya adalah pertanian tropis. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved