Breaking News:

Berita Pemalang

Selain Tuntut Minta Maaf, Pemilik Tanah Patok Rp 150 Juta Guna Bongkar Jalan Ditembok Bangunan

Kami membuka hati, dan akan memberikan jalan tambahan sepanjang 25 meter dengan lebar 1 meter dengan harga Rp 150 juta, harga itu sudah termasuk bangu

Kompas.com/Ari Himawan
Tembok yang dibangun menutup akses tiga rumah warga di Desa Widodaren, Petarukan, Pemalang Jawa Tengah. 

Penulis : Budi Susanto

TRIBUNJATENG.COM, PEMALANG - Susatyo Andrianto warga Desa Widodaren, Kecamatan Petarukan Pemalang tak mampu bendung kegeramannya 

Ia geram lantaran keluarganya diberitakan menutup jalan warga dengan membangun tembok permanen. 

Saat ditemui di Mapolsek Petarukan, Andrianto yang merupakan putra dari Sukendro meluap-luap menyampaikan kekesalannya.

"Katanya kalah Pilkades lalu menutup jalan desa, itu bukan jalan desa, itu tanah pribadi kami. Tanah itu bersetifikat atas nama Mindarwati ibu saya," terangnya, Sabtu (13/3/2021).

Susatyo Andrianto, anak dari Sukendro, saat menyampaikan kekesalannya atas tuduhan menutup akses jalan warga dengan bangunan di Mapolsek Petarukan, Sabtu (13/3/2021).
Susatyo Andrianto, anak dari Sukendro, saat menyampaikan kekesalannya atas tuduhan menutup akses jalan warga dengan bangunan di Mapolsek Petarukan, Sabtu (13/3/2021). (Tribun Jateng/Budi Susanto)

Ia menegaskan, pembangunan yang dilakukan tidak ada hubungan dengan Pilkades 2020. 

"Memang saya nyalon pada 27 Desember, tapi pembangunan dilakukan pada Februari lalu dan ada IMB nya, Polsek juga mengetahui itu. Masak satu tahun berselang disangkutkan dengan Pilkades, apa lagi diberitakan, terus terang kami tidak menerimanya," paparnya. 

Ia kembali berkoar, akses jalan yang tertutup tidak benar, karena masih ada jalan lainnya, bahkan kendaraan roda dua bisa melintas. 

Tembok yang dibangun menutup akses tiga rumah warga di Desa Widodaren, Petarukan, Pemalang Jawa Tengah.
Tembok yang dibangun menutup akses tiga rumah warga di Desa Widodaren, Petarukan, Pemalang Jawa Tengah. (Kompas.com/Ari Himawan)

"Memang untuk roda empat tidak bisa, tapi roda dua masih bisa melintas, berarti bukan terisolir," katanya. 

Andrianto pun meminta keluarga Suharto yang sudah memberi keterangan ke media untuk meminta maaf, dan melakukan publikasi terkait permintaan maaf tersebut. 

Halaman
1234
Penulis: budi susanto
Editor: m nur huda
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved