Breaking News:

Berita Kota Tegal

Kisah Nahkoda Kapal di Tegal yang Pensiun Dini Karena Kena Radiasi, Kini Sukses Bisnis Olahan Ikan

Selain sukses dengan usahanya, dia juga sukses menjadi penggagas dan pembina kelompok pengolahan ikan bernama Sari Ulam

Kisah Nahkoda Kapal di Tegal yang Pensiun Dini Karena Kena Radiasi, Kini Sukses Bisnis Olahan Ikan

TRIBUNJATENG.COM,TEGAL - Hasil tidak akan mengkhianati usaha tuannya. 

Begitulah kira-kira ungkapan yang pas untuk menggambarkan sosok Budi (49), warga Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal

Kerja keras dan keuletan telah mengantarnya menjadi pengusaha sukses di bidang makanan olahan ikan.

Budi dulunya adalah seorang nahkoda kapal berukuran 30 gross tonnage (GT). 

Namun dia harus pensiun dini karena matanya terkena radiasi GPS furuno.

Baca juga: Bagaimana Warga Tak Mengeluh, Anak Lagi Main Kena Lemparan Kondom Bekas dari Hotel Cynthia Alona

Baca juga: Hubungan Memanas, Malaysia Perintahkan Staf Diplomatik Korea Utara Angkat Kaki dalam Waktu 48 Jam

Selain sukses dengan usahanya, dia juga sukses menjadi penggagas dan pembina kelompok pengolahan ikan bernama Sari Ulam. 

Budi bercerita, semula usahanya hanya memproduksi pempek. 

Itu pun yang mengelola istrinya Karminah (49), sejak 1996. 

Ketika itu bahan produksi pempek per harinya masih 3 kilogram- 5 kilogram ikan. 

"Istri saya sudah usaha pempek dari 1996. Tapi cuman dikit, jualannya pakai ember gitu," katanya kepada tribunjateng.com, Jumat (19/3/2021). 

Budi mengatakan, ia kemudian berhenti menjadi nahkoda karena terkena radiasi GPS furuno pada 2005. 

Ia dilarang melaut oleh dokter selama empat tahun. 

Padahal, menurut Budi, saat itu ia sedang berada di puncak kariernya selama 12 tahun menjadi nahkoda.  

Setelah itu ia pun membantu istrinya memproduksi pempek. 

"Dulu saya jadi nahkoda 12 tahun. Tapi berhenti karena mata kena radiasi. Jadi saya bantu istri jualan pempek," ujarnya. 

Pada 2006, menurut Budi, ada seorang teman yang menyarankan untuk membesarkan usaha pempek istrinya. 

Ia kemudian membentuk kelompok masyarakat pengolah ikan bernama Sari Ulam. 

Tujuannya agar mendapatkan pembinaan sekaligus fasilitas alat produksi dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). 

Kemudian pada 2007, ia dan rekan-rekannya mengajukan namun tidak dikabulkan. 

"Saya tidak kapok, saya tetap lanjut mengajukan. Pada 2008 mengajukan lagi, alhamdulillah dikabulkan pada 2009. Kami dapat mesin produksi, freezer dan sebagainya," ungkapnya. 

Budi mengatakan, usahanya mulai berkembang pada 2012.

Tapi tidak hanya itu. 

Ia kemudian secara mandiri belajar pengolahan ikan di Rizky Food Sukabumi. 

Budi selama dua bulan belajar mengembangkan produk makanan olahan ikan. 

Dari situ produk yang semula hanya pempek kini menjadi 10 macam. 

Terdiri dari keong mas, otak-otak, pempek, okado, bakso, nugget, kaki naga, siomay, lumpia, dan kerupuk ikan. 

"Saya belajar untuk bikin aneka olahan ikan, seperti keong mas. Kemudian saya kembangkan di Tegal. Sekaligus saya bagikan ke rekan-rekan di Sari Ulam," katanya. 

Berkembang Pesat

Budi mengatakan, setelah dikembangkan 10 produk tersebut berkembang pesat di Kota Tegal

Tiga di antaranya yang paling diminati adalah keong mas, otak-otak, dan siomay. 

Menurut Budi, kini produksi olahan ikannya per hari menghabiskan bahan 1,5 kuintal ikan. 

Ia dibantu oleh sembilan orang karyawan setiap harinya. 

"Alhamdulillah usaha semakin berkembang. Dulu waktu hanya pempek penghasilan harian Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Sekarang harian Rp 3 juta sampai Rp 4 juta," ungkapnya. 

Budi menjelaskan, ia benar-benar menjaga kualitas selama menjalankan usaha olahan ikannya. 

Pertama ikan yang digunakan harus benar-benar segar. 

Kemudian perbandingan ikan dan tepung, harus dominan ikannya. 

Ia menerapkan bahan ikan 70 persen dan tepung 30 persen. 

Sementara untuk ikan yang digunakan ada tiga jenis, yaitu ikan kacangan, ikan golok-golok, dan ikan celok. 

"Dari menjaga kualitas itu, produksi saya banyak dimintai. Sekarang pasar saya ada di Tegal, Brebes, Purwokerto, Pemalang, Bandung, Boyolali, dan Batang. Saya juga menstok produksi di koperasi KKP," jelasnya. (fba)

Penulis: Fajar Bahruddin Achmad
Editor: muslimah
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved