Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Ngopi Pagi

FOKUS: Kapan Sekolah Lagi?

MEMPUNYAI anak laki-laki usia enam tahun masih duduk di Taman Kanak-kanak ternyata harus penuh kesabaran. Terutama dalam mengajari membaca.

Penulis: galih permadi | Editor: iswidodo
tribunjateng/bram kusuma/cetak
Tajuk ditulis oleh Galih Permadi, Wartawan Tribun Jateng 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Galih Permadi

MEMPUNYAI anak laki-laki usia enam tahun masih duduk di Taman Kanak-kanak ternyata harus penuh kesabaran. Terutama dalam mengajari membaca.

Pandemi ini, anak lebih banyak di rumah, orangtua pun dituntut menjadi guru. Apalagi dengan banyaknya pekerjaan rumah yang diberikan sekolah, mau tak mau orangtua harus membantu dan membimbing anak untuk mengerjakannya.

Si sulung juga sebentar lagi naik kelas I sekolah dasar (SD). Sudah lazim, salah satu syarat tes masuk SD negeri, anak paling tidak sudah bisa membaca. Persoalannya, mengajari membaca anak laki-laki ternyata tak segampang yang dikira, aseli berat! Biar ibu bapak guru saja!.

Suatu ketika ibu negara sedang mengajari anak membaca. Ibunya sedikit emosi ketika anak belum bisa mengeja ketika bertemu huruf konsonan. Diajari berulang pun kadang lupa hingga ibunya kesal.

Sebagai bapak yang mendengar ibu kesal hanya bisa mengingatkan dan bilang,”Sing sabar”. “Sabar, sabar, ndarani gampang po?,” kata Ibu negara yang kemudian menyerahkan mengajari membaca anak ke saya. Dan hasilnya ternyata saya lebih emosi.hehehe.

Persoalan ini ternyata tidak hanya dihadapi saya dan istri, juga teman-teman dan saudara yang memiliki anak laki-laki. Bahkan mertua saudara yang mengeluarkan jurus “ sing sabar” pun akhirnya menyerah sampai gebrak meja karena gemas sang cucu laki-lakinya belum paham dalam mengeja.

Dikutip dalam buku The Wonder of Boys karya Michael Gurian, berdasarkan penelitian Departemen Pendidikan AS, pada tahun-tahun awal sekolah, anak laki-laki mengalami kesulitan lebih tinggi dibandingkan anak perempuan dalam kemampuan membaca, menulis dan keterampilan verbal.

Alasannya, karena berbagai keterampilan atau kemampuan tersebut tidak diajarkan sesuai dengan cara otak laki-laki, yang cenderung lambat dalam mempelajari keterampilan-keterampilan tersebut.

Atas kondisi itu, sebagai bapak, saya tentu sepakat sekolah tatap muka kembali digelar seperti yang disarankan Ketua PGRI Jateng, Muhdi. Begitu pula rencana Walikota Semarang, Hendrar Prihadi membuka pembelajaran tatap muka pada Juli mendatang.

Menurut Muhdi, saat ini ada ancaman besar di dunia pendidikan yaitu losss learning atau hilangnya minat belajar siswa karena berkurangnya intensitas interaksi dengan guru dalam proses pembelajaran. "Saat ini, ancaman terbesarnya yaitu loss learning. Ini jangan sampai berlarut-larut. Apalagi sudah ada SKB empat menteri yang memperbolehkan melakukan tatap muka tanpa melihat zona Covid-19," ujarnya beberapa waktu lalu.

"Sekarang tidak fair, siswa dilarang masuk, sekolah ditutup. Sementara kantor, swasta, hingga orang tua, bebas bepergian. Toh di rumah pun sebenarnya potensi ancamannya sama. Justru kalau di sekolah, siswa itu lebih terjaga," kata Muhdi.

Sementara itu, Hendi mengatakan masih ada 15 persen orangtua yang belum setuju digelar pembelajaran tatap muka. Meski demikian, sekolah tetap berkewajiban menyiapkan format pembelajaran bagi peserta didik yang orang tuanya masih menolak pembelajaran tatap muka. "Artinya, anaknya tetep di rumah tapi pihak sekolah harus mampu menyediakan proses pembelajaran," ujarnya, Rabu (17/3/2021).

Ya, digelarnya pembelajaran tatap muka tidak serta merta pihak sekolah, orangtua, dan pemerintah tidak memperhatikan protokol kesehatan. Kehadiran murid tidak harus 100 persen. Perpaduan sekolah daring dan luring bisa diterapkan. Segera diformulasikan agar anak-anak sekolah lagi.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved