Breaking News:

UIN Walisongo Semarang

LP2M UIN Walisongo Semarang Gelar Workshop Evaluasi KKN Tahun 2021

Workshop Evaluasi ini dibuka oleh Wakil Rektor 3 UIN Walisongo Semarang.

IST
Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) LP2M UIN Walisongo Semarang menggelar workshop Evaluasi KKN Tahun 2021, Jumat (19/3/2021), di Hotel Azana Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) LP2M UIN Walisongo Semarang menggelar workshop Evaluasi KKN Tahun 2021 pada Jumat (19/3/2021) di Hotel Azana Semarang. Walisongo.ac.id

Evalusi ini merupakan bagian dari kegiatan KKN MIT DR XI.

Dihadiri oleh Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Pemkab Kendal, Pemkot Semarang, dan Pemkab Smarang, serta didampingi jajaran LP2M.

Acara dimulai dengan sambutan oleh Ketua LPPM UIN Walisongo Semarang, Dr. Akhmad Arif Junaidi. P

Dia menyebut sejak pandemi Covid-19 maka KKN dilakukan dari rumah atau yang sering dikenal dengan KKN-DR.

Pola KKN ini tentunya berbeda dengan KKN yang dilakukan secara offline atau langsung sebagaimana biasa.

Sehingga memerlukan evaluasi, masukan, dan arahan dari berbagai pihak agar ke depan KKN bisa lebik baik lagi meskipun dilakukannya dari rumah.

"Besar harapan di tahun 2021 ini KKN secara offline diadakan kembali sehingga bisa melaksanakan KKN Nusantara dan KKN yang dilakukan di luar Negeri. Supaya bisa memberikan pengalaman yang lebih kepada mahasiswa dalam melaksanakan kegiatannya di masyarakat lintas daerah ataupun lintas negara,” ujar Ketua LP2M.

Workshop Evaluasi ini dibuka oleh Wakil Rektor 3 UIN Walisongo Semarang.

Dalam sambutannya KKN menjadi kegiatan yang penting untuk melahirkan mahasiswa yang tidak hanya pintar tapi juga responsif terhadap lingkungan atau masyarakat sekitar.

Ucapan terima kasih juga disampaikan oleh Dr. Arief Budiman kepada Tim LP2M yang sudah melaksanakan KKN dengan berbagai model di era pendemi ini.

Dia berharap KKN bisa lebih dikembangan lagi dengan berbagai pola seperti mengimplementasikan dua metodologi, yaitu PAR (Participatory Action Research) dan ABCD (Asset Based Community-driven Development),.

Terbuka kemungkinan mengadopsi metodologi lain yang lebih memberikan manfaat pada komunitas dan universitas.

“Wilayah pengabdian masyarakat juga bisa diperluas tidak hanya berbasis wailayah atau nusantara tetapi juga luar negeri,” tambahnya. (*)

Editor: abduh imanulhaq
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved