Breaking News:

Berita Kebumen

Melihat Penyeberangan Getek di Sungai Lukulo Kebumen, Tarif Seikhlasnya

Ditengah pandemi, moda transportasi tradisional masih bertahan di pegunungan utara Kebumen. 

Tribun Jateng/Khoirul Muzaki
Aktivitas penyeberangan menggunakan getek di perbatasan Kecamatan Karanggayam dan Karangsambung Kebumen. 

TRIBUNBANYUMAS. COM - Di tengah kemajuan teknologi transportasi yang berkembang di masyarakat saat ini, moda transportasi tradisional masih bertahan di pegunungan utara Kebumen

Siang itu cuaca wilayah utara Kebumen sedang terang. Sungai Lukulo yang membelah wilayah itu berarus tenang. 
Ini adalah saat yang aman untuk menyeberang.  

Sukir warga Desa Wonotirto, Kecamatan Karanggayam mempersilakan beberapa warga untuk menaiki perahu geteknya. Bukan hanya mengangkut penumpang, barang milik penumpang juga turut diangkut, termasuk sepeda motor. 

Berpacu dengan arus yang tenang, Sukir  menarik pelan perahunya menggunakan tali dari tepi sungai ke seberang. Ini adalah pengalaman pertama sekaligus mengesankan bagi Darwin, warga Desa Kawedusan Kecamatan Kebumen

Darwin bersama rombongannya yang akan ke desa seberang saat itu memilih menggunakan jasa penyeberangan getek. Pasalnya, tidak ada jembatan terdekat yang bisa menghubungkannya dari Kecamatan Karangsambung ke wilayah seberang di Kecamatan Karanggayam. 

"Ada jembatan tapi harus memutar sekitar 9 kilometer, lebih jauh, " katanya, Sabtu (19/3/2021) 

Darwin dan teman-temannya pun tak segan menaikkan sepeda motor mereka di perahu getek berbahan bambu. Air sungai sedikit menggenangi lantai perahu hingga sepatunya basah.  Tapi itu bukan petanda bahaya.  

Perahu yang ditarik dengan tenaga manusia itu tetap mengapung dan melaju ke tepi sungai sesuai tujuan.  Alih-alih takut, Darwin dan teman-temannya tampak menikmati sensasi menumpang perahu getek. Terlebih ini adalah momentum langka yang belum tentu terulang di kemudian hari. 

"Tidak takut. Bapaknya suka kasih arahan, agar perahunya seimbang penumpang posisinya jangan terlalu pinggir, " katanya

Meski tenaganya tua, kulitnya telah berkerut, Sukir masih bertenaga untuk menarik getek dengan penumpang penuh.  Tetapi Darwin dan teman-temannya tak segan membantu menarik getek sampai ke tepi untuk meringankan beban orang tua itu. 

Yang membuat Darwin lebih terkesan, Sukir tidak mematok tarif untuk penumpangnya. Ia mau diberi uang lelah seikhlasnya. 

Keberadaan perahu getek itu nyatanya sangat membantu warga yang akan menyeberang. Mereka bisa menyingkat waktu untuk sampai ke tujuan. 

Darwin mengatakan, penyeberangan tradisional itu bukan hanya menghubungkan dua desa lain Kecamatan, Desa Kaligending dan Desa Wonotirto, namun juga dua kecamatan,  Kecamatan Karangsambung dan Kecamatan Karanggayam. 

"Warga kalau mau ke pasar Karangsambung juga lewat situ, kalau lewat darat memutar jauh," katanya. (*)

Penulis: khoirul muzaki
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved