Breaking News:

Ngopi Pagi

Fokus: Impor Beras Untuk Siapa?

Munculnya wacana rencana pemerintah impor beras sejumlah satu ton dengan alasan diperuntukan stok cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog. Prak

Penulis: m nur huda | Editor: m nur huda
Grafis:Tribunjateng/Dok
Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda 

Tajuk Ditulis Oleh Jurnalis Tribun Jateng, M Nur Huda

TRIBUNJATENG.COM - “Aku gak perlu minta bantuan, aku hanya minta pupuk dipermudah dan murah terus hasil panen padinya dibeli dengan harga standar. Petani gak penting gabah dibeli di atas standar Cuma minta harga standar biar sama-sama bisa enak, konsumen enak, petani juga enak. Tapi hari ini semua petani padi menangis, pemerintah gak tahu entah kemana?”

Itulah ungkapan seorang petani, Rakijo, warga Mranggen Demak yang disampaikan melalui media sosial di akun Facebooknya belum lama ini. Ungkapan Rakijo ini diyakini mewakili dari mayotitas petani saat ini.

Munculnya wacana rencana pemerintah impor beras sejumlah satu ton dengan alasan diperuntukan stok cadangan beras pemerintah (CBP) di Perum Bulog. Praktis, kabar ini memengaruhi harga di level tengkulak.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menyebut, Bulog memiliki stok lebih dari 800 ribu ton dalam gudangnya di seluruh Indonesia. Namun tidak semuanya dalam kondisi baik karena ada sisa stok beras impor dari tahun 2018 lalu yang mutunya sudah menurun, jumlahnya mencapai 300 ribu ton.

Lutfi mengklaim jumlah itu tidak cukup karena berpotensi akan adanya gejolak harga. Idealnya perlu tambahan satu juta ton.

Ia mengakui ada kendala terkait kualitas hasil panen petani dalam negeri. Gabah petani dalam negeri banyak yang tak bisa dibeli Bulog, karena kadar airnya terlalu tinggi. Di sisi lain, diakuinya, sudah ada perjanjian impor beras atau MoU dengan negara lain.

Saat ini, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sejumlah wilayah di bawah Rp 3.800 per kilogram, merosot tajam dibanding September 2020 di harga Rp 4.800 per kilogram.

Sementara Kementerian Pertanian memastikan stok beras hingga akhir Mei atau selesai Idul Fitri masih aman.

Stok hingga akhir Desember lalu mencapai 7.389.575 ton, sementara perkiraan produksi dalam negeri pada panen raya ini mencapai 17.511.596 ton, sehingga jumlah stok beras hingga akhir Mei 24.901.792 ton.Jumlah tersebut lebih dari cukup karena estimasi kebutuhan mencapai 12.336.041 ton.

Jika kita meluangkan waktu sejenak keliling ke desa-desa, semisal dari Demak sampai Blora, terlihat hamparan tanaman padi yang sudah menguning, mungkin sepekan lagi akan dipanen. Nampak pula ada petani yang sedang memanen, dan terlihat lahan tanaman padi yang baru saja dipanen.

Bulog mesti memiliki komitmen untuk mengutamakan gabah dari petani lokal. Jika kualitas kekeringan kurang maksimal jadi alasan, apa iya hanya sekadar mengeringkan padi saja orang Indonesia tak mampu?

Melihat hal ini, mestinya pemerintah fokus mengutamakan penyerapan gabah lokal. Faktanya, kebijakan impor belum dilakukan, namun harga gabah sudah anjlok. Apakah pengambil kebijakan tak pernah melihat kenyataan, ketika jelang panen raya, harga gabah melambung tinggi.

Sedangkan memasuki masa tanam, pupuk langka. Ini seolah menjadi tradisi negeri kaya sumber pangan ini. Mau sampai kapan tradisi ini dipelihara, dan sebenarnya impor itu untuk siapa? Bukankah esensi kedaulatan pangan aadalah petani diuntungkan ketika sedang panen?(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved