Breaking News:

Korban Jiwa Terus Berjatuhan, Demonstran Anti-kudeta Myanmar Tetap Turun ke Jalan

Demonstran anti-kudeta Myanmar kembali turun ke jalan pada Senin (22/3). Dua demonstran tewas ketika polisi Myanmar menembaki massa pada Minggu (21/3)

Editor: Vito
STR / AFP
Para pengunjuk rasa memberi hormat tiga jari dalam aksi menyalakan lilin untuk menghormati mereka yang telah meninggal dalam demonstrasi menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, Sabtu (13/3/2021) malam. Kekerasan yang dilakukan junta militer Myanmar mendorong seruan revolusi semakin menguat. 

TRIBUNJATENG.COM, YANGON - Demonstran anti-kudeta Myanmar kembali turun ke jalan pada Senin (22/3), meski aparat keamanan terus melakukan penembakan kepada para pengunjuk rasa, dan terus menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Teranyar, dua demonstran tewas ketika polisi Myanmar menembaki massa pada Minggu (21/3). Setidaknya 249 orang kini sudah terbunuh sejak kudeta, menurut tokoh-tokoh dari Kelompok Aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik.

AFP melaporkan, sejumlah demonstran sudah terlihat di beberapa bagian wilayah Yangon sejak Senin pagi. Menjelang siang, demonstran juga mulai terlihat turun ke ruas-ruas jalan di Mandalay.

Beberapa di antara mereka membawa plakat berisi seruan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengintervensi krisis di Myanmar.

Pada Minggu (21/3), seperti dilansir Reuters, Senin (22/3), satu orang ditembak mati dan beberapa terluka ketika polisi menembaki kelompok yang membuat barikade di kota pusat Monywa, kata seorang dokter di sana ketika kelompok masyarakat mengeluarkan seruan di Facebook untuk donor darah.

Kemudian, satu orang tewas dan beberapa terluka ketika pasukan keamanan menembaki kerumunan di kota kedua Mandalay, tulis portal berita ‘Myanmar Now’.

Pengunjuk rasa di sekitar 20 tempat di seluruh Myanmar menggelar aksi protes menyalakan lilin pada malam hari selama akhir pekan.

Aksi itu berlangsung dari kota utama Yangon hingga komunitas kecil di Negara Bagian Kachin di utara, kota Hakha di barat, dan kota paling selatan Kawthaung, menurut sejumlah laporan di media sosial.

Ratusan orang di kota kedua Mandalay, termasuk banyak tenaga medis dengan mantel putih, berbaris dalam "aksi protes Fajar" sebelum matahari terbit pada hari Minggu, video yang diposting kantor berita Mizzima menunjukkan.

Para demonstran di beberapa tempat bergabung dengan para biksu Buddha yang menyalakan lilin, sementara beberapa orang membentuk lilin dengan simbol aksi protes tiga jari.

Di Monywa, Polisi Menembaki Demonstran. "Sniper, sniper," teriakan orang dalam video yang tersebar, tak lama setelah seorang pria ditembak di kepala dan lebih banyak lagi tembakan mendesing.

Juru bicara junta tidak bersedia untuk berkomentar, tetapi sebelumnya mengatakan pasukan keamanan hanya akan menggunakan kekuatan penuh bila diperlukan.

Media negara mengatakan pada hari Minggu bahwa pria dengan sepeda motor menyerang anggota pasukan keamanan yang kemudian meninggal.

Militer mengatakan dua polisi tewas dalam protes sebelumnya. (cnn/tribunnews)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved