Breaking News:

Berita Tegal

Bulog Cabang Pekalongan Serap 11.000 Ton Gabah Petani di Kabupaten Tegal

Rakor membahas gabah berlangsung di aula kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal.

Tribun Jateng/Desta Leila Kartika
Rapat koordinasi gerakan serap gabah Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (TanKP) Kabupaten Tegal, Rabu (24/3/2021). Pada kesempatan ini juga dilakukan nota kesepahaman serta perjanjian kerja sama antara Perum Bulog Kantor Cabang Pekalongan, bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal, dan tim Dirjen Tanaman Pangan (TP) Kementerian Pertanian. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Dalam rangka stabilitas harga gabah/beras disaat panen raya padi tahun 2021, Perum Bulog Kantor Cabang Pekalongan, bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal, dan tim Dirjen Tanaman Pangan (TP) Kementerian Pertanian lakukan nota kesepahaman serta perjanjian kerja sama. 

Adapun dalam rapat koordinasi yang berlangsung di aula kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Tegal, pada Rabu (24/3/2021) ini disepakati beberapa hal. 

Satu di antaranya Bulog Cabang Pekalongan sepakat menyerap gabah petani dengan volume 11.000 ton di Kabupaten Tegal dari hasil panen bulan Maret dan Apil 2021. 

Tim Ditjen Tanaman Pangan (TP) Kementerian Pertanian, Devi Setiabakti menjelaskan, Gabah yang diserap harus sesuai dengan standar mutu sebagaimana dipersyaratkan pada Permendag nomor 24 tahun 2020 tentang Harga Pokok Penjualan (HPP) gabah/beras.

"Disini yang kita amankan adalah harga gabah petani supaya tidak dibawah HPP, minimal sama dengan HPP atau bahkan kalau bisa di atas HPP sehingga bisa dinikmati oleh petani. Saat ini HPP Rp 4.200 per kilogram untuk gabah kering," jelas Devi Setiabakti, pada Tribunjateng.com.

Secara nasional, lanjut Devi, data BPS mengatakan bahwa stok beras nasional masih cukup bahkan surplus beras.  Selain itu salah satu contoh di lapangan seperti di Kabupaten Tegal, setiap panen padi pasti rata-rata surplus 9.000 ton per bulan.

"Komisi IV DPR RI saat rakor dengan pak Menteri Pertanian, pada poin satu sudah mengatakan bahwa mereka menolak adanya rencana impor beras. Jadi ya sudah jelas menolak," katanya.

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Cabang Pekalongan, Heriswan menuturkan, beras yang bisa masuk kriteria Bulog yaitu beras jenis medium sesuai standar Bulog yang sudah disosialisasikan kepada mitra di lapangan.

Seperti komponen beras kadar air maksimal harus 14 persen, butir patah atau beras pecah (broken) maksimal 20 persen, butir menir 2 persen, dan derajat sensor nya 95 persen. 

Adapun kendala yang dialami kenapa Bulog lambat menyerap gabah petani karena dipengaruhi musim hujan.

Belum lagi masih ada petani yang menggunakan penggilingan secara tradisional yaitu lantai jemur sehingga mereka terkendala dengan cuaca.

"Kami lakukan pembinaan, dan alhamdulillah saat ini sudah banyak beras dari petani yang masuk ke kami. Se karesidenan Pekalongan sejak awal Maret kurang lebih 8.000 ton beras yang kami terima," ungkapnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (TanKP) Kabupaten Tegal, Toto Subandriyo menambahkan, rakor kali ini merupakan bentuk respon dari pihaknya menanggapi keluhan petani karena harga jual mereka anjlok terlebih dibarengi dengan wacana impor beras.

"Insyaallah hari ini sudah terjawab, karena dari Komisi IV DPR RI yang memberi izin ekspor maupun impor komoditas pertanian sudah menyatakan menolak wacana impor beras," imbuh Toto. (*)

Penulis: Desta Leila Kartika
Editor: sujarwo
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved