Tolak Impor Beras

Ketua Kelompok Tani Blora: Daripada untuk Impor Beras, Baiknya Anggaran untuk Beli Gabah Petani

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Blora, Sudarwanto, berharap pemerintah mengurungkan niat impor beras.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: rival al manaf
TRIBUNJATENG/SAIFUL MA'SUM
Petani tolak impor beras 

Penulis: Rifqi Gozali

TRIBUNJATENG.COM, BLORA - Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Blora, Sudarwanto, berharap pemerintah mengurungkan niat impor beras. Daripada digunakan impor, anggarannya lebih baik untuk menyerap gabah petani melalui Bulog.

"Anggaran untuk rencana impor beras lebih baik diberikan kepada Bulog untuk penyerapan atau pembelian gabah petani yang saat bulan ini lagi puncaknya panen raya," ujar Sudarwanto, Selasa (23/3/2021).

Baca juga: Harga Beras dari Petani di Kabupaten Tegal Cuma Rp 7.300, Mereka Tolak Impor Beras

Baca juga: Petani Kendal Tolak Impor Beras: Sekarang Harga Gabah Cuma Rp 3300, Kalau Impor Jadi Berapa?

Baca juga: Petani di Kota Tegal Tolak Rencana Impor Beras: Beras Kami Nanti Tak Laku

Sudarwanto melanjutkan, dari data yang pihaknya himpun, sejak Februari sampai Maret 2021 harga gabah kering panen (GKP) di Blora tertinggi hanya di angka Rp 4.000. Gabah tersebut hasil panen menggunakan alat combine harvester.

"Panen pakai mesin combine harvester itu harganya antara Rp 3.800 sampai Rp 4.000," kata Sudarwanto.

Sementara panen yang menggunakan mesin dos harganya Rp 3.500, kemudian yang menggunakan power threser cuma Rp 3.600.

"Kadar airnya itu antara 25 sampai 30 persen," ujar dia.

Sementara untuk harga gabah kering giling (GKG), berada di kisaran Rp 4.300 sampai Rp 4.500. Melihat kondisi tersebut, dia berharap agar gabah minimal dibeli sesuai harga pembelian pemerintah (HPP).

"Kalau ditanya apakah ada yang dijual di bawah HPP, jawabnya ada," ujarnya.

Kepala Bidang Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Blora, Lilik Setyawan, mengatakan, sejauh ini hampir setiap tahun produksi beras dari hasil lahan pertanian di Blora surplus. Misalnya saja pada 2020, dari lahan seluas 101.717,2 hektare menghasilkan gabah kering panen 555.884,5 ton.

Baca juga: Tilang Elektronik atau ETLE di Sragen, Ini yang Harus Dilakukan Jika Mobil Atau Motor Telah Dijual

Baca juga: Persiapan Pembelajaran Tatap Muka, 5.940 Guru di Kabupaten Pekalongan Divaksin Covid-19

Baca juga: Danrem 074 Warastratama Tinjau TMMD Reguler ke-110 di Jatiroto Wonogiri

"Kalau produksi setara beras jadinya 306.125,62 ton," katanya.

Sementara, lanjut Lilik, kebutuhan pangan warga Blora hanya sebesar 65.524,65 ton. Artinya, kebutuhan pangan Blora jika dibandingkan dengan jumlah produksi dari lahan pertaniannya masih tersisa banyak. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved