Breaking News:

Sejumlah Kelompok Bergabung Menentang Kekerasan Junta Militer Myanmar

Kelompok pemberontak bergabung dengan kelompok etnis menentang tindakan keras junta militer terhadap demonstran.

Editor: Vito
Ye Aung THU / AFP
USIR DEONSTRAN - Polisi bergerak di jalanan untuk mengusir demonstran yang melakukan unjuk rasa menentang kudeta militer di Yangon pada Juat (26/2/2021). Aparat Myanmar semakin brutal dalam menghadapi aksi demostrasi menolak kudeta. Kepolisian pada Kamis (25/2/2021) malam, dilaporkan melepaskan beberapa tembakan ke udara, dan melemparkan granat setrum. 

Dewan Pemulihan Negara Bagian Shan (RCSS) telah menyatakan secara terbuka bahwa mereka akan melindungi dan mendukung setiap korban junta militer.

Di sisi lain, beberapa kelompok etnik di utara Myanmar, kecuali Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA), di sepanjang perbatasan antara Myanmar-China, mendukung kudeta tersebut. 

Sementara itu, pemerintah bayangan Myanmar atau Komite yang Mewakili Parlemen Myanmar (CRPH) telah dibentuk di wilayah di bawah kendali sejumlah kelompok etnik bersenjata.

CRPH terdiri atas anggota parlemen terpilih dalam pemilu 2020 yang dipimpin Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang digulingkan militer Myanmar.

Pembicaraan antara CRPH dan beberapa kelompok etnik di selatan sedang berlangsung. Sejumlah sumber mengatakan, tanpa adanya perwakilan militer dalam pertemuan tersebut, aliran diskusi antara CRPH dan kelompok etnik bersenjata menjadi bebas dan tanpa rasa takut.

Bahkan di media sosial, bermunculan isu-isu tentang gagasan menciptakan semacam tentara federal.

Junta militer berulang-kali telah memperingatkan kelompok-kelompok etnik untuk tidak menjalin kontak dengan CRPH.

Namun, seorang anggota Tim Pengarah Proses Perdamaian di sepanjang perbatasan Thailand-Myanmar mengatakan bahwa kedua belah pihak terus melakukan pembicaraan. (cnn/kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved