Breaking News:

Berita Blora

Serapan Gabah Petani oleh Bulog di Blora Baru 10 Persen

Serapan gabah di Kabupaten Blora oleh Bulog sampai saat ini masih berlangsung.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/ Rifqi Gozali
Ilustrasi. Sejumlah buruh tani sedang memanen padi di sawah di Kelurahan Beran, Blora, Jumat (5/3/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, BLORA – Serapan gabah di Kabupaten Blora oleh Bulog sampai saat ini masih berlangsung. Dari target sebanyak 4.000 ton setara beras, yang sudah berjalan saat ini baru sebesar 10 persennya.

“Serapan sudah masuk 10 persennya, dan masih berlanjut. Kami optimistis target bisa terpenuhi,” ujar Kepala Bulog Subdivre II Pati, Yonas Haryadi Kurniawan, kepada Tribunjateng.com, rabu (24/3/2021).

Yonas melanjutkan, sebelum melakukan penyerapan, pihaknya terlebih dulu melakukan sosialisasi kepada mitra penyerap gabah dari petani. Sosialisasi tersebut perihal Permendag Nomor 24 Tahun 2020 yang mengatur harga pembelian pemerintah (HPP) termasuk spesifikasi kualitas gabah.

“Soalnya di Permendag itu diatur, kalau GKP maksimal kadar airnya itu 25 persen. Ini cuaca sudah mulai panas, sudah mulai lancar ini,” ujarnya.

Sedianya, di Kabupaten Blora soal hasil beras dari lahan pertanian hampir selalu surplus. Misalnya pada 2020, data dari Dinas Pertanian setempat menunjukkan bahwa hasil gabah kering panen sebanyak 555.884,5 ton dari lahan seluas 101.717,2 hektare. Hasil sebanyak itu kalau dikonversi menjadi beras hasilnya 306.125,62 ton. Sementara kebutuhan untuk pangan warga Blora hanya sebesar 65.524,65 to.

Jika dibandingkan antara hasil beras dari petani Blora sebanyak 306.125,62 ton sedangkan kemampuan serapan Bulog hanya 4.000 ton beras maka  perbandingannya sangat jauh. Yonas mengatakan, yang pihaknya serap hanya 4.000 ton lantaran sesuai dengan ketersediaan ruang penyimpanan di gudang.

“Beras itu kami simpan untuk cadangan beras pemerintah, kalau gudangnya penuh tidak mungkin menaruh berasnya di samping jalan. Sesuai dengan daya tampungnya (gudang),” kata dia.

Sejauh ini, kata dia, teknis serapan yang dilakukan yakni barang yang masuk gudang bukan gabah, melainkan beras. Sebab, ketika gabah yang diserap dan disimpan ke gudang maka membutuhkan ruang penyimpanan yang lebih besar. Sementara Bulog melakukan penyerapan dari petani melalui mitra atau langsung melalui satker.

“Misalnya saja gabah 1.000 ton kita simpan ke dalam gudang, maka optimalnya kalau jadi beras 850 ton, tidak bisa 1.000 ton,” ujarnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved