Ngopi Pagi

FOKUS: Wos Wutah

BERAS atau uwos dalam Bahasa Jawa, tak hanya bernilai sebagai bahan makanan. Uwos juga menjadi bagian budaya di Indonesia. Begitu kata sejarawan kulin

Penulis: sujarwo | Editor: iswidodo
tribunjateng/bram
Sujarwo atau Pak Jarwo wartawan Tribun Jateng 

Ditulis oleh Wartawan Tribun Jateng, Sujarwo

BERAS atau uwos dalam Bahasa Jawa, tak hanya bernilai sebagai bahan makanan. Uwos juga menjadi bagian budaya di Indonesia. Begitu kata sejarawan kuliner Fadly Rahman.
Memang, uwos atau wos, bukan asli sini. Sebelumnya umbi-umbian sebagai makanan pokok rakyat Nusantara.
Masih kata Fadly, beras dikonsumsi rakyat Nusantara sejak masa Hindu-Buddha. Beras dibawa pedagang India dan China pada sekitar abad ke-ke-5.
Meski uwos makanan 'impor’, petani negeri ini tidak ngowos (tiduran atau malas-masalan). Bukan sebatas menikmati, tapi saat itu gigih membudidayakannya.
Petani negeri ini dikenal handal dalam menanam beras. Tercermin dalam relief Borobudur, candi Buddha di Magelang yang dibangun Dinasti Syailendra pada abad ke-8.
Handalnya petani tanam beras juga terbukti lima abad kemudian. Kejayaan Majapahit (1293-1527 M), utama karena produksi berasnya. "Dalam naskah-naskah kuno salah satunya Negarakertagama ditulis pada masa kekuasaan Majapahit bahwa padi yang dibudidayakan secara luas," ujar Fadly.
Jaya dan populernya beras juga tersirat dalam keris yang sudah tercantum pada prasasti abad 9 Masehi. Awal keberadaan keris sepertinya se-zaman kejayaan beras. Salah satu keris yang terkenal berpamor Wos Wutah.
Keris Wos Wutah bermakna beras melebihi tempatnya atau tumpah. Kondisi itu, mengacu literatur, di dalam pandangan masyarakat Jawa dianggap sebagai rezeki berlimpah. Konon, pemakai keris Wos Wutah memiliki tuah berkait kemakmuran, berkah, dan rezeki melimpah.
Sekadar tahu saja, keris sebagai ageman, bagi orang Jawa mengandung makna mendalam. “Bahkan terdapat filosofi alur kehidupan," kata Sulistiono, anggota Paguyuban Senopati (Serikat Pelestari Tosan Aji) Nusantara.
Asal mula penyebutan keris, yang telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia sejak 2005, merupakan singkatan bahasa Jawa dari "Mlungker-mlungker kang bisa ngiris". Dalam bahasa Indonesia berarti "(Benda) berliku-liku yang bisa mengiris/membelah (sesuatu)".
Bak keris, petani kekinian merasa 'teriris-iris' menyusul wacana impor beras sebanyak 1,5 juta ton. Wacana ini terungkap dalam paparan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian beberapa waktu lalu, bersamaan saat harga gabah anjlok, saat pandemi Covid-19 yang belum reda.
Padahal beras kita melimpah. Ombudsman RI mencatat stok beras saat ini masih sekitar 6 juta ton. “Stok beras masih relatif aman dan tidak memerlukan impor dalam waktu dekat,” ujar anggota Ombudsman, Yeka Hendra Fatika.
Maklum, jika petani menyebut bukan hanya mengiris-iris, menyayat hati, wacana tersebut akan membunuh mereka. "Saat panen padi dan negara mengimpor beras, ini bisa membunuh petani,” kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Klaten, Wening Swasono.
Duh... kalau begini jadi kebalikan makna pamor Wos Wutah: beras tumpah jadi murah. Wes ra ono ajine. Ya, itu kalau jadi karena impor beras melimpah. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved