Banjir Semarang

Menteri PUPR Basuki Datang ke Semarang Khusus Tangani Banjir

Basuki Hadimuljono mengatakan, penanganan antisipasi banjir harus dipikirkan ketika musim kemarau.

Tribun Jateng/ Mamdukh Adi
Menteri Basuki saat di Rumah Pompa Kali Sringin Semarang. 

penulis: Mamdukh Adi Priyanto

TRIBUNJATENG.COM,SEMARANG - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono mengatakan, penanganan antisipasi banjir harus dipikirkan ketika musim kemarau, bukan saat musim hujan atau ketika banjir melanda.

Termasuk penanganan banjir di wilayah Kota Semarang dan beberapa daerah di pesisir pantai utara (pantura) Jawa Tengah.

Basuki menegaskan, penanganan banjir harus dilakukan secara teknikal dan non-teknikal.

Secara teknikal, konsep pengendalian banjir terdiri dari tiga bagian: menahan di hulu, mengatur di tengah, menahan dan mengatur di hilir.

Selain tiga konsep tersebut, pengendalian banjir juga dihadapkan kejadian alam lain yang mengikutinya, semisal adanya penurunan muka tanah.

"Pengendalian banjir di area low land, seperti di Pantai Utara Jateng, juga dihadapkan pada terjadinya kenaikan muka air laut hingga 6 milimeter pertahun dan penurunan permukaan tanah 9 hingga 10 sentimeter pertahun," kata Basuki dalam diskusi virtual yang diadakan Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang, Rabu (24/3/2021).

Konsep di menahan air di hulu yang ia maksud yakni dengan melakukan penghijauan, pengendalian sedimen, dan bangunan tampungan air (bendungan).

Sedangkan mengatur di bagian tengah-tengah hulu dan hilir yakni dengan cara peningkatan tampungan atau kolam retensi, penataan drainase, dan pengalihan aliran sungai atau floodway.

Sementara, untuk menahan dan mengatur di hilir yakni dengan cara mencegah air laut masuk ke darat yakni dengan dibuat tanggul, pengendalian sedimen, penataan drainase, membuat tampungan air semisal waduk atau kolam retensi, dan sistem pompa atau polder.

Selain itu, kata dia, morfologi sungai juga memberikan kontribusi terjadinya banjir di daerah pesisir.

"Kondisi fisik tipikal Daerah Aliran Sungai (DAS) sepanjang Pantura khususnya di daerah Jawa Tengah memberikan tantangan tersendiri yang membuat daerah ini rentan terhadap bencana banjir dan rob yang diakibatkan aliran air permukaan atau surface runoff," kata Basuki.

Sebagai contoh, lanjutnya, untuk DAS Tenggang sepanjang 22,13 kilometer dan DAS Sringin 15,27 kilometer, memiliki topografi permukaan relatif datar dengan kemiringan permukaan rata-rata kurang dari 3 persen. Elevasi permukaan tanah setempat hanya berkisar 0 hingga 26 meter di atas permukaan laut.

Belum lagi adanya intervensi atau gangguan DAS yang juga berkontribusi terhadap kapasitas pelayanan sungai atau tidak lancarnya aliran. Semisal sedimentasi, bangunan atau sempadan di bantaran sungai, dan sebagainya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved