Breaking News:

Berita video

Video Dewan Pers: Digitalisasi Media Berdampak pada Kualitas Jurnalisme

Perkembangan dunia digital semakin  pesat, hal itu berdampak pada dunia pers.

Penulis: Muhammad Sholekan | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNJATENG.COM, SOLO - Berikut ini video Dewan Pers: digitalisasi media berdampak pada kualitas jurnalisme.

Perkembangan dunia digital semakin  pesat, hal itu berdampak pada dunia pers. Dampak tersebut yakni pada penurunan oplah pada platform cetak. 

Hal itu diungkapkan Ketua Komisi Pengaduan Dewan Pers, Aris Zulkifli di sela kegiatan uji kompetisi wartawan (UKW) yang diselenggarakan PWI Solo di Hotel Alila, Jumat (26/3/2021). 

Menurutnya, adanya pergeseran media cetak ke digital harus disambut positif. Pasalnya, di era sekarang orang familiar dengan gawai. 

Aris menyampaikan, media harus bisa mengikuti arus digitalisasi. Maka, perusahaan media membuat platform berbasis digital juga. 

Dia menyampaikan, media digital adalah mencari bisnis dengan pertimbangan traffic dan ranking untuk mendapatkan iklan. 

"Ini yang mengakibatkan kualitas jurnalisme kita menjadi turun. Ada berita click bait, antara judul dan isi tidak sesuai, berita bombastis, dan sebagainya," ucapnya. 

Aris mengimbau, antara jurnalisme digital dengan kualitas jurnalisme harus diseimbangkan. Maka, harus masuk juga pada media sosial sebagai media penyebar berita. 

"Kita harus masuk di sana (media sosial, red). Namun, kualitas jurnalisme kita harus ditinggalkan," jelasnya. 

Menurutnya, peningkatan jurnalisme bisa ditingkatkan dengan cara lebih sering turun langsung ke lapangan, mematuhi kode etik, liputan-liputan yang bermutu, dan sebagainya. 

Dia mengungkapkan, pada tiap tahun Dewan Pers menerima pengaduan hampir 800. Di setiap aduan, ada 1 orang mengadukan 2 media. 

"Jadi, 90-95 persen (pengaduan, red) isinya dimenangkan oleh pengadu. Dimenangkan dalam pengertian medianya dinyatakan melanggar kode etik," ungkapnya. 

Sekarang, lanjut dia, mengenai adanya pelanggaran kode etik diselesaikan dengan etik, misalnya dengan minta maaf atau mengajukan ralat. 

"Saya kira itu biasa, kalau nulis salah ya minta maaf. Tetap memuat hak jawab. Tidak seperti dulu kita bisa dipidanakan begitu," tandasnya. (*) 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved